Feeds:
Tulisan
Komentar

Dikalahkan Marah

angerMarah…, inilah satu hal yang paling saya hindari.

Meluapkan marah mungkin hanya memakan waktu beberapa menit saja. Melepaskan rasa kesal meletup-letup seketika. Tapi, lama sekali hati baru jernih kembali. Orang yang dimarahi jelas sakit hatinya, yang marah juga tak lepas dari gelisah.

Begitulah, kemarin saya telah dikalahkan oleh marah. Padahal biasanya selalu berusaha tak kalah olehnya. Rasa sesalnya tak hendak pergi. Saya selalu dibayangi rasa bersalah. Meskipun telah minta maaf.

Seorang penyair Amerika –Ralph Waldo Emerson — pernah bilang “For every minute you are angry you lose sixty seconds of happiness.” Ralp salah, bahagia yang terenggut akibat marah itu bisa berhari-hari meski marahnya hanya 1 menit. Untuk kasus ini, saya setuju dengan Laurence J. Peter — seorang penulis — dia bilang “Speak when you are angry – and you’ll make the best speech you’ll ever regret.” Ya benar… kata-kata yang terlempar saat marah hanya membekaskan rasa sesal dan rasa sakit.

Karena telah dikalahkan oleh marah, aku minta maaf.. Sebab, Rasulullah juga sudah pernah berpesan berkali-kali “Janganlah engkau marah”, begitu kata beliau yang disampaikan Bukhari.

Sumber foto :http://www.flickr.com/photos/stickbus/2801406/

Jangan Menyerah

Beberapa tahun lalu, pernah baca sebuah puisi yang cukup menginspirasi. Meski hanya baca sekilas, intinya masih terngiang-ngiang. Kalau sedang “jatuh”, sering saya teringat kembali puisi itu. Memang, bahkan satu baris pun dari puisi itu tidak saya ingat. Bahkan, persisnya baca dimana saya juga lupa.

Sebulan lalu, ketika sedang menghadapi hari yang lumayan berat, saya sempatkan jalan-jalan ke salah satu toko barang bekas di jalan Martadinata (Riau) – Bandung. “Mungkin dengan lihat barang-barang unik, beban hari itu bisa sedikit teralihkan,” batin saya.

Ada dua hal yang saya dapatkan hari itu. Pertama, saya dapat buku yang selama ini saya cari-cari – Biografi Lee Iacocca dalam bahasa inggris. Dulu pernah baca edisi terjemahannya, tapi serasa banyak kalimat yang kurang apik terjemahannya. Jadi penasaran cari aslinya. Harganya hanya Rp. 25.000, murah sekali.

Kedua, saya lihat sebuah pigura bergambar orang yang sedang mendaki gunung. Ada puisi juga tertulis disana. Wow… ini dia puisi yang selama ini saya cari-cari. Hanya terngiang-ngiang saja, tanpa tau apa judulnya, tanpa tau juga harus nyari dimana. Ternyata di toko barang bekas itu dijual dalam sebuah pigura. Sayangnya harganya lumayan mahal. Mending cari di internet saja. Dan inilah dia…

Don’t Quit Poem
by anonymous

When things go wrong, as they sometimes will,
When the road you’re trudging seems all up hill,
When the funds are low and the debts are high,
And you want to smile, but you have to sigh,
When care is pressing you down a bit,
Rest! if you must; but don’t you quit.

Life is queer with its twists and turns,
As everyone of us sometimes learns,
And many a failure turns about
When he might have won had he stuck it out;
Don’t give up, though the pace seems slow;
You might succeed with another blow.

Often the goal is nearer than
It seems to a faint and faltering man,
Often the struggler has given up
When he might have captured the victor’s cup.
And he learned too late, when the night slipped down,
How close he was to the golden crown.

Success is failure turned inside out;
The silver tint of the clouds of doubt;
And you never can tell how close you are,
It may be near when it seems afar;
So stick to the fight when you’re hardest hit;
It’s when things seem worst that you mustn’t quit.

Stereotipe Kacamata

Seorang teman pernah mengajak saya ke toko optik. “Mau beli kacamata”, katanya. Ketika itu di kompleks Salman-ITB baru saja ada pembukaan sebuah toko optik.  Sedang ada diskon opening untuk mahasiswa. Jadi, teman saya ini minta ditemani ke toko itu.

Tapi setahu saya, matanya normal-normal saja. Tak pernah terlihat mengernyitkan dahi ketika baca tulisan yang mungil atau jauh. Tidak ada gelagat mencurigakan sebagai orang yang harus dipasangi kacamata. “Mata kamu sakit?”, tanya saya. Maksud pertanyaannya bukan mata sang kawan ini yang sakit, tapi mau bertanya apakah dia memang perlu kacamata. “Minus berapa”, saya jejali pertanyaan lagi.

“oo.. ga sakit kok. Cuma pengen gaya aja.  Mumpung lagi diskon..”. Lalu dia menjelaskan, kalau kita pakai kacama mata akan terlihat lebih pintar daripada tidak pakai kacama. Kacamamata akan membuat kita terlihat lebih intelek.

“Ah masak sih..?”, baru pertama kali saya dengar teori absurd seperti ini.

Sambil makan siang di kantin Salman, dia berusaha meyakinkan saya bahwa pakai kacamata itu punya banyak keuntungan. Terutama image sebagai kaum intelektual, yaitu orang yang punya pendidikan tinggi dan punya pengetahuan segudang. Lalu dia membujuk supaya saya juga ikut mengambil keputusan beli kacamata. “Kalau kamu belum punya duit, pakai duit saya dulu. Bayarnya gampanglah.., nanti-nanti saja”

Saya masih sibuk merenung. Apakah teori kawan ini bisa dipercaya, atau dia hanya ingin memperdaya saya saja. Tapi tampaknya dia serius. Lagi pula, dia tidak dapat untung apa-apa dari toko optik yang baru buka itu kalau saya ikut beli kacamata juga.

Sehabis menyantap makan siang, saya putuskan untuk menemaninya saja. Kamipun pergi ke toko optik itu. Penjaga toko membantu pilih-pilih frame kacamata. Dia juga menjelaskan frame mana yang lagi ngetren dan dampak psikologis dari masing-masing frame itu.  Setelah mendengar pandangan penjaga toko, dia pilih frame rodenstock. Harganya lumayan mahal. Tapi katanya frame itu sedang laku.

Penjaga tokonya senyum-senyum saja saat sang teman ini pesan frame dengan lensa normal saja. Seolah sudah biasa menghadapi konsumen seperti itu dia berkata  “Selamat pakai..”, sambil menyerahkan bungkus kacamata dan kembaliannya.

Sejak saat itu, dia selalu pakai kacamata. Saya lihat dia semakin percaya diri. Mungkin gambaran bahwa pakai kacamata itu memberi citra intelek telah membuatnya lebih yakin berhadapan dengan siapapun.

kacamata

Saya tulis ini karena baru saja baca buku Fraser P. Seitel. Seorang pakar public relation, dosen dan penulis buku. Fraser seolah mengamini teori nyeleneh kawan tadi. Dalam bukunya, Fraser menulis :

Semua orang yang hidup di dunia ini memiliki gambaran steretotipe. Yaitu sebuah image yang melekat dan dipercayai kebenarannya. Kebanyakan dari kita adalah korban stereotipe.  Berdasarkan penelitian, kuliah yang disampaikan oleh dosen berkacamata lebih dapat diterima dibandingkan bila disampaikan oleh dosen yang tak berkacamata. Stereotipe yang melekat dalam benak masyarakat adalah : orang berkacamata selalu lebih dapat dipercaya.

Wow…, ternyata teori teman saya itu bukan isapan jempol. Ia sudah mendapat dukungan dari pakar komunikasi dan public relation. Pantas saja dia bela-belain beli kacamata.

Ada yang mendefenisikan stereotipe “sebuah pendapat atau prasangka yang melekat pada kelompok tertentu, biasanya diindikasikan melalui atribut tertentu juga”.

Ah… namanya juga stereotipe. Sesuatu yang dianggap benar, padahal hanya didasarkan pada suatu sangkaan saja. Untung saya tak jadi korban stereotipe kacamata sang teman itu.

sumber foto : http://www.flickr.com/photos/loupiote/94376729/

Silver Line

Dalam hidup ini, beberapa kali saya merasa terhianati. Oleh teman sendiri yang menurut kata hati saya sudah menyakiti akibat menanggalkan rasa percaya yang sudah lama saya tanam. Marah, kesal, kecewa dan sakit hati. Kumpulan sifat negatif itu akhirnya menjadi bumerang untuk diri sendiri.

Rasanya berat untuk bersikap positif. Saat kita merasa terluka oleh orang yang selama ini dekat. Antipati segera datang padahal tak pernah kita inginkan.

Salah satu cerita klasik mengisahkan, bila kita sudah cinta pada seseorang, maka meludahnya sajapun terlihat indah dan mempesona. Tapi bila rasa benci padanya sudah menyelimuti hati, senyum dan tawanya pun terasa bagai siksaan tak terperi.

Emosi memang selalu mampu menggoroti otak kiri kita, hingga rasio sering hilang begitu saja. Tak mampu menimbang dengan jernih duduk masalah.

Seorang teman pernah bertanya, “bagaimana caranya untuk memaafkan?”. Sebuah pertanyaan sederhana, namun saya tak sanggup mengurai jawabannya. Apa susahnya memberi maaf, ya tinggal maafkan saja. Hal-hal ‘bagaimana caranya’ berkaitan dengan prosedur. Prosedur memaafkan saya fikir sederhana saja. Tinggal ucapkan maaf atau terima maaf orang yang meminta maaf.

Setelah berselang waktu, saya menyadari bahwa pertanyaan sebenarnya bukanlah bagaimana cara memaafkan, melainkan bagaimana mengikhlaskan maaf. Bibir kita bisa saja mengucap maaf, tapi hati belum tentu ikhlas memaafkan. Itulah inti masalahnya. Apalagi pada tingkat sakit hati yang begitu hebat, melepas maaf dari lubuk hati bukanlah perkara mudah. Bahkan kadang butuh waktu yang amat panjang.

Saya pernah kenal dengan seseorang yang sudah 15 tahun tak saling bicara dengan ibu kandungnya sendiri. Persoalannya, ya itu…, sulit melepas maaf dalam hati. Setiap lebaran tiba, ucapan maaf memang saling terlontar. Tapi itu hanya sekedar maaf di bibir saja. Selepas itu?, sakit hati masih melekat kuat. Egoiskah mereka? Sulit saya jawab, sebab menurut saya keduanya adalah orang yang begitu baik dan penuh kasih sayang. Kebekuan Ibu dan anaknya itu baru mencair saat sang ibu menjelang sakratul maut. Ajal yang sudah mendekat membuka hati mereka untuk saling mengikhlaskan.

Dalam film Stuart Little II, dikisahkan, seekor anak tikus yang diadopsi keluarga Little merasa hidupnya hancur lebur. Berbagai cobaan dan penolakan ia terima. Setiap melakukan sesuatu yang baik, ia selalu dianggap salah. Stuart frustrasi. Dalam kegalauan itu, sang Ayah mendekatinya. “Dalam hidup ini kita memang sering melihat awan hitam. Tapi yakinlah selalu ada silver line (sisi baiknya)”, katanya membujuk Stuart yang sedang kelabu.

silver-line1Ya… silver line (sisi baik) dari segala peristiwa memang ada. Meski kadang tersembunyi jauh dari pandangan kita. Orang-orang biasa menyebutnya dengan “hikmah”. Bila ada yang mengalami musibah, kita selalu diminta untuk mengambil hikmahnya. Memetik pelajaran berharga dari peristiwa buruk yang menghadang.

Saya baru saja mendapat sebuah jawaban atas pertanyaan seorang kawan bertahun-tahun lalu tentang bagaimana memaafkan itu. Kita bisa melihat silver line-nya. Itulah yang membuat maaf bisa membasuh sakit hati.

Silver line juga yang membuat kita tak terjebak pada situasi tak menyenangkan sehingga meluapkan emosi. Hari ini, saya juga dapat merasakan silver line itu. Ia memang bermanfaat. Tak perlu menunggu permintaan maaf dari orang lain. Menelisik silver line membuat hati ini sudah terbilas dari sakit hati.

Sumber foto : http://i164.photobucket.com/albums/u19/mariafernanda73/tornadoes.jpg

SPBU – Makloon

Sudah sekian lama tidak nulis di blog, ilmu saya cuma nambah dua : SPBU dan Makloon.

Sejak kecil, banyak terminologi yang sering terdengar tapi saya sama sekali tak mengerti artinya apa. Ada yang tau wujudnya tapi tidak tau defenisinya apa. Contohnya, saya baru tau WC itu singkatan dari Water Closed ketika sudah SMA. Ada juga yang sering terdengar, tapi tak mengerti apa maksudnya. Misalnya, saya baru tau kuliner sekarang-sekarang ini aja, setelah ada program kuliner di tv-tv.

Yang memalukan, saya baru tau singkatan SPBU itu apa baru-baru ini saja. Itupun dikasih tau orang, setelah sekian tahun penasaran apa artinya SPBU. Saya hanya tau benda itu namanya pomp bensin, kenapa selalu tertulis SPBU?. SPBU = Stasiun Pengisian Bahan-bakar Umum. Oh, betapa sedihnya. Selama ini sering hilir mudik SPBU, baru sekarang tau SPBU itu singkatan dari apa.

Lalu, makloon. Terminologi makloon memang baru beberapa tahun ini saya dengar dan selalu bertanya dalam hati apa sih makloon itu?. Ternyata eh ternyata makloon itu hampir sama dengan outsourching.

-orang Indonesia yang perlu beli kamus bahasa Indonesia-

Curiga Maling

Dalam salah satu penerbangan tahun lalu, sempat mendokumentasikan seperti ini.

Curiga Maling

Sebenarnya bukan hal baru sih, tapi tetap saja menggelitik hati.  Normalnya, setiap pengumuman, baik lisan atau tulisan disampaikan dalam dua bahasa. Cuma saya merasa risih saat membaca sebuah stiker yang lumayan besar di belakang tempat duduk. Artinya stiker itu persis berada di depan mata kita kalau sedang duduk.

Kalimat itu berbunyi

Mengambil Pelampung Denda Rp. 10 Juta/Kurungan Penjara.

Tak ada terjemahan dalam versi bahasa Inggris seperti halnya pengumuman yang lain. Mengapa?

Apakah karena space stiker sudah terlalu penuh untuk ditambah lagi teks bahasa Inggris? Atau memang tulisan itu semata-mata ditujukan bagi penumpang Indonesia saja? Duh… jika benar, diskriminatif sekali.

Mungkinkah selama ini penumpang Indonesia memang terkenal suka maling pelampung? Jadi perlu diingatkan dengan tegas. Apakah penumpang asing tak ada niat mencuri? Tak taulah apa duduk perkaranya hingga kalimat yang terpampang di stiker itu muncul. Ini benar-benar membuat tak nyaman, tiba-tiba saya merasa menjadi makhluk yang dicurigai jadi maling.

Setelah landing, semua orang bergegas mengambil barangnya dan keluar terburu-buru. Dua orang bule yang duduk diseberang saya, “mencolong” majalah milik maskapai dan memasukkan ke dalam tasnya. Saya hanya tersenyum, pasangan ini benar-benar maling atau mereka tau kalau mereka tak termasuk dalam ancaman denda itu. Pintar sekali mereka. Lagi pula yang diancam denda 10 juta hanyalah pelampung. Masih banyak barang-barang di pesawat yang bisa dibawa pulang dan tak terancam denda atau kurungan.

Ayo sikat mang….

Surat di Bawah Bantal

Ingin pakai aku..

Aku punya pengalaman masa kecil yang akan selalu kuingat. Kisah yang kadang membuatku tersenyum sendiri saat teringat kejadian itu. Ibu juga suka tersenyum dengan bola mata yang berkaca-kaca ketika hal itu terungkap dalam pembicaraan kecil kami.

Entah kenapa sejak kecil aku merasa canggung jika ingin minta sesuatu ke Ibu atau Ayahku. Padahal minta dibelikan sepatu, tas, atau buku bukanlah hal yang istimewa. Tapi ada rasa tidak tega bila aku meminta lalu membuat Ibu harus mengeluarkan uang untuk memenuhi permintaanku itu. Bahkan hingga mahasiswapun, ayah sering “marah” bila akan mengirimkan duit bulananku, karena saat ditanya berapa duit yang akan dikirim aku pasti bilang “terserahlah berapa saja”. Barangkali beliau bingung berapa jumlah dana dibutuhkan seorang mahasiswa, ia tak pernah mengenyam kehidupan seorang mahasiswa. Aku tak pernah mau bilang kebutuhanku yang sebenarnya.

Sepupuku, teman-temanku, dan banyak orang yang kukenal biasanya akan mendapat hadiah khusus saat mereka dapat 5 besar di akhir caturwulan. Di keluarga kami tradisi seperti itu memang tak ada.

Kadang aku ingin sekali punya tas kegemaranku atau ingin beli sepatu yang sedang nge-trend. Tapi rasanya tenggorokanku tersekat saat mau bilang ke ayah atau ibu kalau aku ingin dibeliin barang-barang seperti itu. ‘Sangkin’ susahnya, aku pernah jatuh sakit karena benar-benar ”kesemsem” pada sebuah tas berbahan semi kulit yang bertuliskan “ Korea University”, tapi tak sanggup minta ke Ibu. Aku masih ingat betapa tas itu telah membiusku untuk memilikinya, tapi aku tak sanggup minta dibelikan. Ada keingingan yang membuncah, tapi tertekan oleh rasa segan yang tak kalah besarnya. Kepikiran siang dan malam.

Aku jatuh sakit karena rasa cinta akan tas itu, dan berpikir keras bagaimana aku bisa mendapatkannya. Akhirnya aku beranikan diri untuk minta tapi dengan cara menuliskan lewat surat.

Jadilah aku tulis surat itu. Kupilih kertas terbaik yang aku punya, kuukir katanya dengan sepenuh hati, kulipat kertasnya ala lipatan surat cinta, dan kubungkus dengan amplop bertuliskan.

“Untuk Papa & Mama tersayang

-Irfan-”

Pagi-pagi sekali, sebelum aku pergi sekolah. Surat itu kuselipkan di bawah bantal mereka. Saat ibu akan membereskan tempat tidur nanti beliau pasti menemukan surat itu batinku. Aku berangkat sekolah jauh lebih pagi dari biasanya.

Benar saja, sepulang sekolah di atas bantalku sudah ada sebuah tas yang kuidam-idamkan selama ini. Tas semi kulit dengan kombinasi coklat dan hitam. Di bagian depannya ada bordiran logo dengan tulisan “ Korea University”. Betapa senang hati ini. Tas itu lantas kupeluk.

Tidak ada surat balasan, tidak ada komentar dari Ibu atau Ayah. Aku pun jadi segan bilang “terima kasih”. Jadi kutuliskan saja ucapan terimakasih singkat lewat surat di bawah bantal ibu esok pagi. Kejadian itu begitu datar, bahkan kakakku tak tahu kalau hari itu aku dibelikan sebuah tas baru.

Setelah aku tumbuh dewasa baru Ibu bercerita betapa ia terharu saat mendapatkan surat di bawah bantalnya. Bertahun-tahun aku selalu meminta sesuatu lewat surat. Dan ternyata, kata Ibu, setiap hari mereka selalu menanti surat-suratku di bawah bantal. Seperti seorang kekasih yang menanti-nanti surat cintanya tiba.

Masa SMU dan kuliah aku masih sering mengirim surat ke Ibu. Tapi, sejak hp merevolusi cara kita berkomunikasi romantisme itu juga pudar. Kalau aku pulang ke rumah, aku masih lihat surat-suratku tersimpan rapi sekali di kamar Ibu.
I love U mom..

Biasnya Anti Terorisme

Tahun 2001 menjadi pintu gerbang hangatnya badai terorisme melanda dunia. Sejak tragedi 11 september 2001, AS menyemburkan nafas perang pada pelaku teror. Pokoknya perang sehabis-habisnya menumpas terorisme. Sampai sekarang Al Qaeda masih menempati juara satu organisasi teroris versi Amerika. Meski Osama yang namanya mirip Obama itu masih luput dari pencarian Amerika.

Sikap perang terhadap terorisme itu telah mengubah geopolitik internasional. Sebelumnya, kutub ideologi komunis – demokrasi yang saling beradu kuat. Sekarang antara Amerika dan sobat-sobatnya vs organisasi radikal muslim. Memang belum sampai pada perseteruan ideologi agama. Tapi bila suasana panas ini tak kunjung reda, bisa jadi perang dunia ke-tiga bakal pecah.

Tahun 2004, Amerika membentuk pusat antiteror yang bernama National Counterterorism Center (NCTC). Mudah ditebak, latar belakang berdirinya organisasi ini pasti akibat jengahnya Amerika akan aksi teroris yang berada dalam defenisi mereka sendiri.

Silahkan buka website resmi lembaga ini http://www.nctc.gov.

Disitu kita bisa lihat siapa saja kelompok teroris yang sedang diburu Amerika? Bisa dibilang hampir semuanya organisasi Islam. Mereka juga pasang harga untuk kepala masing-masing individu yang paling diminati. Kalau mau berburu, silahkan lihat bursa harga kepala mereka disini. Hingga kini, Osama Bin Laden masih jadi yang termahal.

Produk teranyar NCTC adalah kalender teroris. Ada dalam format print yang bisa di download dan ada online juga. Jangan lakukan planning tahun 2009 sebelum lihat kalender ini. Menarik, databasenya lengkap. Diplot hari perhari.   Lagi-lagi mayoritas berdasarkan penanggalan Islam dan event-event umat Islam.

Mereka juga sudah kumpulkan database serangan teroris seluruh dunia. Kejadian di Indonesia juga sudah masuk dalam rekaman.

Serunya lagi, kita bisa lihat cakupan organisasi teror versi Amerika ini. Silahkan lihat peta interaktifnya disini. Seluruh wilayah Indonesia sudah masuk dalam jaringan Jamaah Islamiyah (JI). Sumatera, Jawa dan Sulawesi masuk dalam cakupan Al Qaeda. Kalimantan bersih dari organisasi paling dibenci negeri paman sam ini. Kalau Amerika mau perang melawan Jamaah Islamiyah, maka Indonesia dan Malaysia lah sarang paling potensial untuk digeledah.

Masukkah Israel sebagai teroris? Sebab tingkah Israel di Gaza akhir-akhir ini bisa disebut sebagai State Terorism. Ternyata tidak. Justru dalam website NCTC, Israel diposisikan sebagai pihak yang sedang menghadapi teror.

Amerika mendefenisikan sendiri arti teroris untuk membedakan teror dengan perilaku kekerasan biasa. Menurut The American Herritage, terorisme adalah “The unlawful use or threatened use of force or violence by a person or an organized group against people or property with the intention of intimidating or coercing societies or governments, often for ideological or political reasons.”

Jadi Terorisme = Kekerasan + Motif Politik/Ideologis. Pelakunya bisa individu atau organisasi.

Lantas, mengapa sekarang Amerika terkesan berkepribadian ganda? punya standar ganda atas kejahatan kemanusiaan? Bisa dipahami, sebab sekarang Amerika masih menjadikan organisasi Islam sebagai teroris versi mereka. Hamas yang sekarang ingin ditumpas Israel adalah teroris dalam kamus NCTC Amerika. Jadi agenda Israel menyerang Gaza juga merupakan agenda Amerika untuk melenyapkan Hamas.

Apapun motif politiknya. Serakahnya Israel, keras kepalanya Hamas, sombongnya Amerika, mandulnya PBB dan bancinya Arab. Jelas tak bisa dijadikan alat membenarkan pembunuhan brutal atas rakyat sipil.

Bias… semuanya menjadi bias.

Virus Hayang Kawin..

Ada dua geng anak-anak yang biasa bermain di sekitar rumah. Kalau sedang jamnya bermain, tawa mereka begitu lepas. Berkumpul dan bercanda. Meski kadang sering membuah suara gaduh, bagi saya tidaklah masalah. Masa bermain anak-anak biarlah mereka nikmati. Maka, jadilah halaman rumah saya tempat bermain anak-anak kompleks. Geng anak yang belum sekolah biasanya ngumpul pagi-pagi. Dan geng yang sudah sekolah nge-geng nya sore hari. Kedua geng ini tak pernah keliatan bermain bersama. Tapi kadar gaduhnya sama saja.

Akhir-akhir ini, konten kegaduhan kedua kelompok itu mulai seragam. Sambil bermain mereka nyanyi teriak-teriak.

Hayang kawin win..win..win…, hayang kawin…” (mau kawin win…win…win…, mau kawin..). Bait lanjutannya saya tidak begitu menyimak.

Saya penasaran, ada apa gerangan kok anak-anak itu serentak semuanya pada minta kawin?. Hipotesis saya, mereka mungkin punya sebuah permainan baru. Tapi judulnya kok minta kawin ya…? Ini menambah rasa penasaran yang begitu mendalam.

Selang beberapa hari setelah lagu hayang kawin itu pertama kali diteriakkan anak-anak, maka kini saya juga mendengar tetangga sebelah teriak-teriak nyanyi hayang kawin.. Wah, ini lantas menjadi diskusi hangat antara saya dan istri. Whats going on..? semua orang mendadak pengen kawin. Anak-anak kecil pada minta kawin, sekarang ibu-ibu juga minta kawin. Jangan-jangan ini merupakan tanda-tanda akhir jaman.

Belakangan, saya baru tau. Nonton di televisi lokal Bandung. Ada video klip lagu sunda yang judulnya hayang kawin. Oh.., ternyata inilah sumber inspirasi orang-orang sekompleks pada minta kawin. Video klip ini juga lantas mementahkan hipotesis semula.

Semoga ini hanya sebatas lagu yang sedang gandrung saja. Tak menjadi inspirasi substansif yang membuat orang kebelet kawin. Kasihan anak-anak itu, belum paham konsep kawin. Ibu-ibu juga, bakal banyak rumah tangga yang hancur karena ibu-ibunya mendadak ingin kawin lagi. Buat pencipta, penyanyi dan produser hayang kawin, selamat deh…

Keranjingan Baca

Lima hari menuju ditutupnya kalender 2008. Ntah mengapa saya tiba-tiba kerasukan pengen baca dengan kadar yang tak biasa. Padahal tugas-tugas yang minta selesai sebelum 2009 menumpuk di meja.

Selepas selesai baca Maryamah Karpov, yang menurut saya agak-agak nanggung. Kecuali kalau memang benar jilid keduanya muncul. Saya belanja buku, lumayan banyaklah untuk ukuran 5 hari rencana baca. Inilah dia listnya:

  1. Jejak Tinju Pak Kiai [Emha Ainun Najib]
  2. 5 cm [Donny Dhirgantoro]
  3. Waiting [Ha Jin]
  4. Anjing yang Masuk Surga [M. Dawam Rahardjo]
  5. 9 Matahari [Adenita]
  6. Langit Merah Saga [Gola Gong]
  7. Ketika Bumi Menangis [Gola Gong]
  8. Pusaran Arus Waktu [Gola Gong]
  9. Kite Runner [Khaled Hosseini ]

O ya, ada satu buku lagi yang dikirim langsung oleh Penulisnya : Cinta di Ujung Sajadah [Asma Nadia]. Terimakasih ya Mbak, bukunya sudah saya lahap. Mbak Asma Nadia ngirim buku terbarunya itu sebagai balasan atas kiriman CD edCoustic dari kami.

Kalau dilihat hampir semuanya novel, kecuali bukunya Cak Nun. Asik juga menyelami 9 pemikiran orang yang tersusun dalam 11 buku. Ada 1 buku yang belum tuntas saya baca sejak 1 bulan lalu : Catatan Pinggir vol 1 [Goenawan Mohammad], nah sekarang dalam sela-sela waktu buku itulah yang dicicil lembar demi lembar.

Hm… kenyang sudah. Sementara tugas-tugas saya sedang mencak-mencak minta disentuh. Semoga buku-buku yang dikunyah tadi menjadi pelecut yang akan mempercepat tugas menulis saya. Ganbatte lah for me.

Tulisan Sebelumnya »