write for the pleasure of writing

Tiga puluh hari masjid-masjid penuh dengan beragam kegiatan ramadhan. Sholat taraweh berjamaah jadi menu utamanya. Umumnya, selepas sholat isya, sebelum taraweh dimulai, ada yang namanya ceramah taraweh. Kurang lebih sejenis dengan kuliah singkat agama.

Masjid Salman ITB jadi tempat favoritku menjalani malam-malam ramadhan. Tema ceramah di masjid kampus ITB ini sangat variatif, tidak klise, dan membuka wawasan. Ada satu ceramah yang sampai saat ini masih melekat kuat dalam ingatan. Setiap ramadhan tiba, aku lantas teringat dengan sang penceramah. Sayangnya ceramah itu tak disampaikan di Masjid Salman ITB.

Pada suatu malam di tahun 2007 aku sholat taraweh di salah satu Masjid di daerah Sukaluyu Bandung. [Nama masjidnya lupa]. Selepas sholat Isya, seorang sepuh naik mimbar, siap-siap menjalankan tugas sebagai penceramah. Ia mengenakan jas berwarna coklat tua. Berkacamata dan sebuah peci yang tak lagi sempurna warna hitamnya ‘nongkrong’ di atas kepalanya.

“Hm…,” ia berdehem. Mencoba melancarkan produksi vokalnya.

“Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaaaatuh..”

“Wa ‘alaikum salam..” jawab hadirin tak serempak dan hanya terdengar sayup. Padahal masjid hampir penuh.

“Hadirin, meskipun kita tadi hanya berbuka dengan sepiring nasi dan ikan asin saja, tapi itulah nikmat paling besar yang Allah berikan pada kita. Semoga kita segera bertemu denganNya.”

“Wassalamu ‘alaikum,” seraya ia turun dari mimbar. Kencleng baru saja akan mulai berjalan tapi harus berhenti karena ceramah telah usai. Semua orang saling berpandang-pandangan. Menyimpan tanya dalam hati masing-masing. “Ha..? secepat itu”. “Tadi ngomong apa kok sudah selesai?”

Sumber: detik.com. Maaf bang Hatta, pinjam fotonya untuk ilustrasi.

Ceramah memang benar-benar selesai. Bapak tua itu langsung memimpin jamaah sholat taraweh. Barangkali selama sholat taraweh berlangsung banyak yang masih menyimpan tanya di hatinya.

Bagiku itu ceramah paling berkesan karena beberapa hal.

  1. Unik, keunikannya terletak pada singkatnya ceramah. Ini rekor ceramah paling singkat.
  2. Terserap optimal, seluruh pesan yang ia sampaikan benar-benar melekat di hati. Ini agak berbeda dengan gaya ceramah yang biasa didesain dalam durasi panjang. Bahkan, banyak penceramah yang justru terjebak pada ukuran durasi, bukan kualitas. Sehingga ceramahnya bertele-tele bahkan sering tidak nyambung.
  3. Kesederhaan berbuka puasa, ia menggambarkan kondisi berbuka puasa yang sederhana. Tidak seperti kita kebanyakan, berbuka puasa justru dengan ritual menyantap segala jenis makanan istimewa.
  4. Berbobot,  ini baru aku sadari di belakang hari.

Elaborasi dikit poin terakhir: Berbobot. Ternyata ada hadist yang senada dengan apa yang ia sampaikan. “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari). Barangkali sang penceramah mengambil hikmah dari hadis tersebut. Ia sampaikan dengan bahasa sehari-hari. Yang menarik, awalnya aku belum menangkap maksud kalimat terakhirnya: “semoga kita segera bertemu denganNya.” Dugaan awal itu sekedar doa, tapi doa yang agak aneh bukan?. Namun, setelah membaca hadis itu dan mengingat kembali raut wajah sang penceramah yang seolah memendam rindu itu aku baru tersadar. Ia sudah merasakan kenikmatan berbuka puasa, ada satu lagi nikmat yang hendak ia raih: bertemu dengan Tuhannya.

Subhanallah. Aku juga ingin merasakan kerinduan seperti itu. Maka, setiap ramadhan tiba aku selalu teringat ceramah paling singkat itu.

Nasib si Jari Tengah

Kenapa jari tengah bermakna “F**k You?”

Kalau ingin cari gara-gara dan diuber orang sekampung, gampang saja, acungkan jari tengah anda ke semua orang yang ditemui. Dengan catatan, empat jari yang lain harus tunduk dalam genggaman. Hanya jari tengah yang dalam posisi normal.

Video orang yang sedang mengacungkan jari tengah di televisi hampir dapat dipastikan kena sensor. Jari yang ukurannya paling panjang diantara jari-jari lainnya itu mendadak lebih hina dari aurat sekalipun. Jari tengah mampu mewakili pesan paling kurang ajar yang ingin kita sampaikan ke orang lain. Menghina, merendahkan, dan menyulut emosi. Mau pasang wajah senyum, marah atau mengejek, tak mengurangi makna mengejek jari tengah.

Apa kisah jari tengah mengalami nasib seperti ini? Ketika seluruh jari merapat dan kedua tangan merapat, itu mewakili simbol rendah hati dan sopan. Tapi kalau si jari tengah sendiri saja, simbol yang ia wakili bisa mengundang petaka.

Ternyata jari tengah sudah menemukan sialnya sejak zaman Romawi kuno. Ketika itu jari tengah sudah mewakili simbol menghina orang lain. Beberapa dokumen Romawi kuno mencatat hal itu. Tapi dalam konteks naskah-naskah komedi.

Nasib si Jari Tengah Ketika Berjuang Sendiri

Kini, seisi planet bumi sepakat memberikan makna “F*ck You” untuk simbol jari tengah. Digunakan untuk mengejek dengan tingkat kasar bahkan berorientasi seksual. Tapi, kenapa simbol jari tengah bermakna “F*ck You”?

Konon, ini dimulai ketika perang Perancis-Inggris. Sebelum perang Agincourt tahun 1415, Perancis yang khawatir dengan kemenangan Inggris memutuskan untuk memotong jari tengah tawanan Inggris. Tujuannya agar mereka tidak dapat memanah dengan baik karena ketika itu panah jadi salah satu senjata utama. Ternyata Inggris tetap berhasil menaklukkan Perancis.

Saat Inggris menang mereka mengolok-olok tentara Perancis yang telah berbuat curang. Sambil mengacungkan jari tengah tentara Inggris teriak-teriak dalam bahasa Inggris klasik “See, we can still pluck yew!”. Lihat, kami tetap bisa membantai kalian. Nah… agaknya PLUCK itu bergeser terus sampai sekarang jadi F*CK.

Nasibmulah jari tengah. Yang sabar ya nak..

Spasialnesia Segera Hadir

Kian hari biaya pendidikan semakin mahal saja. Dulu, kata orang “sekolah setinggi-tingginya menjadi salah satu jalan menjadi kaya,” kaya dalam ukuran finansial maksudnya. Kini, untuk sekolah anda harus jadi kaya dulu.

Saya cukup terkejut melihat tarif yang ditetapkan kampus-kampus beken di Indonesia. Bahkan, kalau dihitung-hitung biaya kuliah di dalam negeri tak jauh berbeda dengan kuliah di luar negeri. Akibatnya banyak orang tua yang kini memilih menyekolahkan anaknya ke luar negeri.

Anak saya masih kecil. Kebingungan biaya kuliah akankah saya alami juga nanti? Ah… biarlah masa berlalu dan menjawabnya. Mudah-mudahan nanti biaya kuliah menjadi lebih terjangkau. Sebab, aset paling mendasar sebuah bangsa bukanlah sumber daya alam, melainkan sumber daya manusianya. Bagaimana kita bisa maju kalau untuk belajar saja kita sudah memasang pagar setinggi-tingginya. Hanya yang berduit saja yang mampu melompati pagar itu dengan mudah.

Saya termasuk beruntung, ketika kuliah di ITB mendapat beasiswa penuh dari masuk hingga lulus. Saya berasal dari keluarga yang ekonominya pas-pasan. Mendapat keringangan berupa beasiswa penuh jadi karunia yang sangat berarti. Saya ingat, akibat beasiswa penuh ini, ketika masuk ITB saya punya dua janji.

Pertama, saya akan menempuh karir sebagai pengusaha bukan pegawai. Saat kuliah saya disuapi dengan beasiswa, maka kewajiban moral saya untuk tidak disuapi lagi secara finansial. Kedua, saya akan kembalikan ilmu yang saya peroleh ke masyarakat.

Janji pertama sedang saya tunaikan. Tidak mudah memang, tapi inilah jalan hidup yang saya pilih. Nah.. janji kedua itu belum saya penuhi sama sekali. Bagaimana cara mengembalikan ilmu kepada masyarakat? Saya belum menemukan cara yang pas.

Janji kedua itu selalu menghantui. Makanya, ketika mantan dosen pembimbing saya meminta kerjasama melakukan riset di kampus langsung saya penuhi. Itu salah satu jalan. Beliau juga pernah meminta saya jadi pembimbing tugas akhir mahasiswa. Alhamdulillah, itupun jadi jalan.

Tapi saya masih belum puas. Mengembalikan ilmu harus lebih luas cakupannya. Nah… untuk itu saya punya dua alternatif saat ini. Pertama, menulis buku, ini sedang saya lakukan. Lagi-lagi kerjasama dengan dosen pembimbing saya dulu. Kedua, saya ingin menulis rutin, setidaknya seminggu sekali. Lalu, tulisan itu akan saya muat pada media online. Biar murah meriah. he..hee.

Maka, hadirlah ide membuat www.spasialnesia.com. Insya Allah akan saya luncurkan bulan depan. Bagi insan geospasial, yang ingin berkontribusi, silahkan..

www.spasialnesia.com akan launching September 2011

Di bulan ramadhan, salah satu bacaan yang paling banyak peminatnya adalah kitab suci Al Qur’an. Namun, aku ingin ceritakan bahwa aku punya buku sakti, judulnya “Perjanjian dengan Setan” karya Jajak MD.

Buku lusuh ini aku temukan saat masih mahasiwa dulu. Ketika beres-beres barang sewaktu akan pindahan, aku lihat sebuah buku dengan desain sampul yang aneh. Dugaanku buku itu sejenis buku-buku cerita horor Indonesia zaman 80 an. Dulu aku pernah baca buku “Manusia Penunggu Jenazah” karya Abdullah Harahap. Bayanganku, buku ini tak jauh beda dengan buku-buku horor seperti itu.

Entah bagaimana cerita, buku itu pun akhirnya aku ambil. Belakangan aku sadar, ‘menyelamatkan’ buku itu dari golongan sampah adalah satu hal yang paling aku syukuri.

Bukunya tak terlalu tebal. Kertasnya sudah menguning dan penuh bercak air, atau kotoran kecoa jangan-jangan? Penasaran dengan judulnya yang nyeleneh itu, si buku kumal itu pun aku masukkan dalam tas. Sudah lama tak baca buku-buku honor Indonesia. Selama ini hanya baca  buku-buku teks, biar agak keren baca juga buku filsafat dan pemikiran. Sekali-kali seru juga kalau baca buku yang katanya kelas kacangan ini.

Begitu selesai pindahan kost, aku sempatkan baca buku hasil nemu tak sengaja ini. Luar biasa, serasa tersihir, aku hanyut dalam cerita-cerita di buku itu. Ternyata, itu adalah kumpulan cerpen Jajak MD. “Perjanjian dengan Setan” merupakan salah satu judul cerita yang akhirnya jadi judul buku.

Aku merasa menemukan buku yang frekuensi alamiahnya sama dengan diriku, sehingga setiap membaca terasa betul resonansinya. Aku suka, titik.

Foto: bukubukubekas.wordpress.com

Kini, setelah lebih dari tujuh tahun menemukan sang buku lusuh itu, sudah puluhan kali aku membaca sampai tuntas. Rasanya tak pernah bosan. Setiap aku merasa sulit menulis atau mandeg mengerjakan tulisan apapun, buku Perjanjian dengan Setan lah yang mampu mengembalikan kesegaran.

Jajak MD memang hebat. Ia lantas kutempatkan sebagai penulis paling kucari. Sayangnya jejak tulisan Jajak MD tidak terlalu banyak. Sibuk googling aku hanya menemukan lima saja cerpennya. Itupun cerpen tahun 2000-an. Di usianya yang senja Jajak MD banyak menulis tentang kematian. Nah… di buku Perjanjian dengan Setan ia banyak menulis tentang petualangan hidup seorang pemuda. Sederhana namun menggugah.

Dalam buku Perjanjian dengan Setan, Jajak MD mahir menghadirkan cerita. Cerita mengalir dan bernas. Yang paling aku suka, ia selalu menutup cerita dengan mengejutkan. Cerpen yang ia tuliskan dalam buku itu terjadi pada tahun 70-an, tapi masih terasa hidup dan relevan sampai saat ini.

Bagiku, inilah kitab sakti. Sakti karena setiap membacanya, buku itu seolah menumpahkan inspirasinya padaku untuk menulis juga. Aku tak begitu mengenal siapa Jajak MD. Hanya profil singkat melalui penelusuran om Google, tapi karyanya telah berhasil meresonansiku. Terima kasih eyang…

Penggemarmu.

Sesuatu baru terasa amat berharga ketika kita dalam kondisi kehilangan. Sakit mata misalnya. Saat mata sehat dan ia selalu mau diajak kompromi melihat yang kita mau, entah mengapa sulit mengucap syukur atas perannya. Begitu sang mata ngambek, barulah sadar betapa ia telah berjasa banyak.

Selain pada kasus sakit, seluruh jenis kehilangan membuat kita sadar apa yang selama ini biasa saja tiba-tiba begitu berarti. Tapi sayangnya kesadaran itu muncul justru saat kita kehilangannya. Kehilangan harta, pekerjaan, orang yang kita cintai, bahkan kesempatan yang berlalu.

Aku pernah bermurung durja berbulan-bulan karena kesempatan untuk dapat beasiswa ke luar negeri lenyap. Padahal hanya tinggal selangkah lagi. Sebelumnya kesempatan itu ibarat ikut kuis saja, iseng-iseng berhadiah. Begitu gagal di pos penghujung, barulah sadar itu bukan kuis. Kesempatan emas telah hilang. Meski masih bisa diraih lagi di lain kesempatan, tapi tetap saja ada yang hilang.

Barusan aku saksikan tayangan dokumenter tentang orang-orang yang diuji dengan sakit berkepanjangan. Nikmat sehat dari dirinya dicabut. Menikmati alam yang indah ini sudah tak bisa lagi. Bercengkrama dengan anak dan pasangan tercinta jadi hal mustahil. Semua harta dan jabatan jadi tak ada artinya.

Duh… Bagaimana kalau aku dalam posisi itu?

Mumpung masih sehat, sudah sepantasnya aku ucapkan terima kasih pada Tuhan yang telah memberi nikmat sehat dan hidup ini. Pada orang tua yang telah mengantarkan aku jadi orang yang mandiri. Pada istri yang dengan setianya menjalani hidup. Pada anak yang selalu tersenyum menyambut kedatanganku di rumah. Pada orang-orang disekelilingku yang jasanya sering tak terlihat mata.

Terima kasih. Sebab, tak bisa kudustai semua nikmat dan karunia ini. Sebelum kehilangan itu datang, terima kasih. Semuanya begitu berharga.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Akhir dekade 80-an duo penyanyi Milli Vanilli mencapai sukses besar. Bahkan, pada 1990 mereka mendapat penghargaan tertinggi di dunia musik: grammy award. Ketenaran dua pemuda asal Jerman ini menjadi salah satu fenomena di akhir tahun 80-an. Saya termasuk penggemar musik Milli Vanilli. Meski ketika itu masih usia anak-anak, bagi saya musik mereka sangat asyik.

Sungguh sebuah petaka, di tahun yang sama saat mereka menerima grammy award, Milli Vanilli tersangkut skandal lipsync. Sebuah penipuan publik besar-besaran. Ternyata, selama ini mereka cuma modal tampang dan kemampuan lenggak-lenggok break dance saja. Sedangkan modal dasar penyanyi, yakni suara, mereka palsukan dengan suara orang lain.

Bagi penggemar Milli Vanilli, kejadian itu sungguh menohok hati. Sang pujaan ternyata menipu. Terlepas dari karya mereka memang bagus, tapi Milli Vanilli meraih sukses dengan kepalsuan. Ini adalah pelanggaran atas kepercayaan publik.

Akhir-akhir ini saya melihat demokrasi di negeri kita kok mirip seperti Milli Vanilli ya? banyak kepalsuan. Kalau benar tuduhan Ketua MK, Mahfud MD, bahwa Andi Nurpati pernah mencurangi hasil pemilu ketika masih di KPU. Ada yang meraih sukses dengan mencurangi, itu lah demokrasi Milli Vanilli.

Masih ingat menjelang pemilu berlangsung? Seluruh ruang publik dibanjiri spanduk “jual diri” calon wakil rakyat. Mereka bernyanyi dengan syair yang sama, “berjuang demi rakyat”. Saat berhasil menduduki kursi hangat DPR/DPRD mereka mendadak amnesia dengan kata “demi rakyat”. Berjuang sih masih. Tapi berjuang untuk diri sendiri dan untuk pesanan partai tempat ia bernaung.

Beragam kisah memalukan akhir-akhir ini menjadi bukti bahwa mereka juga memalsukan kepercayaan rakyat. Demokrasi Milli Vanilli sedang dipertontonkan. Kita tahu mereka sedang lipsync. Terima gaji dan tunjangan yang aduhai, selain itu banyak objekan jadi pemalak anggaran. “Demi rakyat” cukup jadi slogan di atas kertas saja, memalsukan motif sesungguhnya.

Milli Vanilli terpuruk karena ketahuan menipu dengan lipsync-nya. Beberapa bulan setelah mendapat grammy award, mereka menyatakan mundur dari industri musik. Mereka mengaku tak mau lagi hidup bergelimang kesuksesan namun berdiri di alas kebohongan. Duo asal Jerman yang hijrah ke Amerika dan mendadak tenar ini pun dipecat dari labelnya.

Meski berbohong, satu pelajaran berharga dari Milli Vanilli: bersedia mengaku dan mundur. Tapi, lain ceritanya dengan demokrasi Milli Vanilli yang kita budayakan di Indonesia. Huh…. ini negeri kami bangun dengan motto maju tak gentar bung! Mundur tak masuk dalam kamus politik kita. Belum balik modal sih…

sumber foto: wikipedia

Saat sarapan pagi tadi sempat lihat wawancara Sekjen MK, Janedjri M Gaffar, yang sedang berseteru dengan Bendahara Umum Partai Demokrat, Nazaruddin. Wawancara memang tidak seimbang karena tidak melibatkan kedua belah pihak yang sedang misuh-misuh. Menurut TV-One mereka belum berhasil menghubungi beberapa pihak Demokrat untuk melengkapi tanggapan dua sisi.

Supaya masyarakat percaya, TV-One memperdengarkan nada sambung Nazaruddin saat ditelepon. Saya tidak tahu “memperdengarkan” ke publik nada sambung seperti ini etis tidak ya? Sebab, tidak diangkatnya telepon bisa dipersepsikan berbeda oleh masyarakat. Misalnya, Nazaruddin takut diwawancara. Nazaruddin marah sama TV-One. Nazaruddin lagi tidur. Nazaruddin pengecut. HP Nazaruddin ketinggalan di rumah, jadi tidak diangkat. Nah… macam-macam kan kemungkinan tanggapannya?

Saya tak punya kapabilitas beropini tentang kasus dugaan gratifikasi ini. Siapa yang salah dan siapa yang benar, biarlah yang pandai-pandai di negeri ini saja yang menuntaskan. Yang menarik bagi saya adalah nada sambungnya yang konon hp Nazaruddin itu. Saya tidak hapal itu lagu apa. Tapi jelas sekali terdengar kalimat “Ya Allah… ya Allah”, dst. Dugaan saya itu lagu rohani Islam. Berbahasa arab.

Kok bisa menarik? Karena tiba-tiba terputar kembali ingatan akan kisah beberapa tahun lalu. Begini ceritanya.

Saya mampir ke salah satu Kementerian di Jakarta. Kementerian apa itu, sudahlah tak penting dibahas. Melalui telepon saya diminta hadir karena perusahaan saya direkomendasikan oleh beberapa orang untuk menangani suatu pekerjaan. Sampai disini sudah ada empat variabel: Kementerian sesuatu, perusahaan tertentu, beberapa orang, dan pekerjaan ada deh. Semoga tak bingung.

Sesampainya di ruangan saya dipersilahkan duduk dan ditawari alternatif minum apa. Kopi, teh, atau jus?. Saya pesan kopi saja, inginnya sih sekalian nasi goreng, tapi urung karena ini bukan restoran. Setelah memanggil stafnya untuk memenuhi pesanan kopi tadi, tiba-tiba hp-nya berbunyi. Ringtone yang berbunyi cukup nyaring. Sangat familiar dan tentu menyejukkan hati: beberapa ayat awal pada surat Yasin.

Akibat mendengar ringtone itu saya langsung terkesima dengan beliau. Pasti orangnya sholeh, penyayang keluarga, dan taat pada ajaran agama. Jarang-jarang loh orang mau memasang ringtone ayat suci Al Qur’an pada hp-nya. Saya yakin ia seorang yang sangat menjaga diri, karena setiap panggilan telepon masuk tentu kalimah suci itu akan langsung membersihkan hatinya. Dalam hati saya juga berniat melakukan hal yang sama pada hp saya sepulang dari gedung sungguh megah ini.

Ia membuka pembicaraan. Basa-basi sedikit saja karena ternyata ia cukup asertif dalam berkomunikasi, tak ada beban untuk berterus terang. “Jadi begini Pak, saya ada pekerjaan yang akan ditenderkan beberapa bulan mendatang,” ujarnya. Saya pasang telinga lebih tajam lagi agar dapat menyimak lebih baik. Ia menawarkan agar saya mengambil pekerjaan itu. Kebetulan secara teknis saya cukup paham detail pekerjaan, bahkan setelah lihat spesifikasi pekerjaan yang dituangkan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK), saya merasa masih bisa memberikan hasil yang lebih dari sekedar memenuhi KAK. Ia juga memberikan informasi nilai pekerjaan dan saya cukup kaget ketika itu, karena nilai tersebut sangat besar. Saya bisa dapat untung banyak kalau nilainya segitu.

“Seperti biasanya, Bapak tentu paham kan, silahkan diajukan berapa kira-kira nilai yang akan Bapak kembalikan dari nilai proyek untuk dibagi dengan teman-teman disini,” ujar beliau sekaligus menjelaskan bahwa pemenang tender bisa diatur nanti. ‘Seperti biasa’, ya… kickback pada proyek-proyek pemerintah memang sudah menjadi kebiasaan. Bahkan membudaya.

Terus terang saya gamang dalam hal ini. Selama ini perusahaan selalu mencari proyek-proyek yang benar-benar terbebas dari dana tendang-tendangan (kickback). Mendapati kenyataan seperti ini saya jadi bingung. Di satu sisi, pekerjaan tersebut benar-benar saya kuasai dan secara finansial perusahaan saya juga butuh pendapatan. Di sisi lain, hati kecil saya menyatakan tidak.

Setelah diskusi kesana-kemari, kesimpulan yang saya peroleh adalah mengikuti skenario yang ditawarkannya: bersekutu mendapatkan proyek pemerintah dengan imbalan kickback . Ia pun menawarkan skenario pemenangan tender. Lama saya berada dalam kegalauan. Akhirnya, sebelum semuanya berjalan saya ambil keputusan bahwa saya mundur dari persekutuan itu. Hati kecil saya sulit berdamai dengan keadaan itu. Bukan bermaksud sok suci, tapi biasanya menentang hati kecil berujung buruk.

Pengunduran diri itu saya sampaikan lewat telepon. Ketika menelpon beliau, lagi-lagi nada sambungnya sangatlah islami. Saya jadi berpikir, tidak kah ini paradoks? Kita menjalani sesuatu yang bertentangan ajaran agama, setahu saya bersekongkol dan mengharap kickback itu bertentangan dengan nilai Islam. Tapi identitas yang ia perkuat sangatlah islami, terbukti dari simbol-simbol agama yang ia pakai dalam ringtone dan nada sambung.

Pilihan nada sambung dan ringtone mewakili ekspresi pemakainya. Seperti halnya pakaian dan simbol-simbol lainnya, nada sambung kita pilih sesuai dengan citra diri kita. Ada juga yang mengatakan nada sambung itu sesuai pilihan suasana hati pemasangnya. Kalau lagi jatuh cinta, maka nada sambungnya akan bertema cinta-cinta. Sedang patah hati juga banyak pilihan nada sambung menunjukkan sedang gundah gulana akibat cinta. Banyak, masing-masing operator seluler menyimpan hampir seluruh suasana hati yang kita inginkan pada databasenya.

Saya masih belum habis pikir tentang suasana hati pegawai salah satu kementerian tadi. Di mata saya saya, citra yang terbentuk akibat nada sambung dan ringtone yang ia pilih adalah seseorang yang sangat menjunjung nilai-nilai Islam. Tapi, begitu ia menawarkan kerjasama yang sepanjang pengetahuan saya justru dicela dalam ajaran Islam, saya jadi merasa ia melacurkan simbol suci tersebut. Ntahlah, ini hanya pandangan pribadi saja.

Lalu, bagaimana dengan bendahara umum Demokrat yang pakai nada sambung nasyid berbahasa arab itu? Hanya ia dan Tuhan yang tahu. Secara teknis, pakai nada sambung apa saja tidaklah masalah. Toh yang bayar siempunya telepon, kita hanya mendengar saja. Atau barangkali pakai nada sambung berkonten Islam jadi kamuflase untuk menutupi karakter sesungguhnya? Ah… sudahlah menebak-nebak dengan dasar yang tak kuat adalah kesalahan juga.

Renang Banci

Dulu, saya belajar renang di Danau Toba. Menguasai teknik berenang gaya bebas, sebebas-bebasnya. Yang penting ngapung dan melaju ke depan. Eh.. ke belakang juga bisa. Yang penting, bisa renang. Titik.

Ketika SMA saya diajari renang gaya dada. Itu loh renang yang muncul-tenggelam. Muncul lagi, tenggelam lagi. Gitu terus-terusan. Saya bilang itu renang gaya banci. Ogah belajar renang seperti itu. Sampai lulus SMA saya memang tak menguasai renang gaya dada. Diajarin teknik renang gaya bebas juga tak bisa saya terima sepenuh hati. “Masa’ perenang alami diajarin lagi renang?, huh” Gengsi itu mengalahkan kebaikan yang ditawarkan orang lain. Padahal kalau diajak balapan renang saya selalu kalah.

Nah… saat ini saya lagi rutin renang. Setiap minggu minimal sekali lah mencebur ke kolam renang Sabuga-ITB. Sebelumnya saya sudah mencoba olah raga jogging, capek euy… Baru lari 4 putaran rasanya ga betah. Padahal dulu pas mau ikutan Ospek IMG (Ikatan Mahasiswa Geodesi), syaratnya harus keliling lapangan Sabuga (ukuran standar lapangan sepakbola) sebanyak 20 kali tanpa henti. Saya juga pernah nyoba fitness. Lari-lari seperti marmut, ini juga ga berhasil. Kurang pas rasanya. Ikutan badminton juga pernah, tapi malu kalah melulu. Mau nyoba tennis dan golf, masih pasang niat aja sudah minder sendiri.

Renang menjadi olah raga yang benar-benar saya nikmati sekarang. Bayangkan…, sekarang saya bisa renang non-stop 45 menit tanpa perlu pit stop. Ya.. kurang lebih menempuh jarak hampir 2 kilometer lah. Tak terasa capek. Benar-benar menikmati bolak-balik lintasan panjang kolam renang ITB yang katanya ukuran olimpic size itu.

Kok bisa? Akhirnya saya menemukan juga rahasia nikmatnya “renang banci” itu. Meski dulu anti renang gaya dada, sekarang saya malah sudah ga pernah lagi renang gaya bebas. Pasalnya, kalau renang gaya bebas saya selalu tidak berhasil melintasi lebih dari 100 meter. Harus berhenti dulu istirahat. Belum lagi sering sekali si hidung, telinga, dan tenggorokan kemasukan air.

Renang gaya banci, eh gaya dada saya pelajari cuma lihat animasi renang di internet. Lalu praktik di kolam renang sendirian. Awalnya susah, tapi lama-lama berhasil juga. Justru, renang gaya dada ini benar-benar renang yang menghemat energi. Terpujilah penemu renang banci ini. He..he..

Dalam ukuran saya, saya sudah tekun belajar gaya dada supaya bisa menguasainya sampai tingkat hampir mahir. Kalau mahir berarti sudah berani balapan, saya memang sengaja ga ingin balapan. Cuma ingin olah raga sambil menikmati segarnya air kolam renang.

Sambil menyelam minum air, begitu kata pepatah. Sambil menyelam mencari hikmah, begitu kata saya mengekor pepatah itu. Beginilah hikmahnya.

Pertama, mudah bila menguasai teknik yang benar. Dulu, saya belajar sendiri renang gaya bebas tanpa panduan teknik yang benar. Hanya bisa mengapung dan melaju, itu saja. Bagaimana agar bertahan lama, efisien, dan cepat belum saya pelajari. Akibatnya saya hanya sekedar bisa tapi tidak kompetitif. Hanya kalau ada buaya saja baru bisa terpaksa melaju kencang. Untung saja di Danau Toba tak ada buaya.

Kedua, miliki irama sendiri. Dalam mempelajari sesuatu–tidak hanya renang tentunya–langkah awal yang paling mudah memang copy-paste seperti prinsip ala NLP. Tapi tak cukup, kita perlu lanjutkan agar sesuai dengan irama kita sendiri. Prinsip ini pernah saya lakukan ketika dulu belajar berbagai bahasa pemrograman agar bisa coding software sendiri. Setelah belajar teori-teorinya, lalu latihan menulis ulang ribuan baris code yang pernah dibuat oleh orang lain sampai berhasil. Supaya mahir, saya harus mampu coding dengan cara sendiri. Nah.. pada tahap inilah pengembaraan dimulai. Butuh waktu panjang hingga menemukan irama sendiri, menemukan gaya pemrograman sendiri.

Ketiga, menikmati. Bagi saya renang adalah olah raga yang sesuai dengan karakter saya pribadi. Saya menikmatinya sehingga renang 45 menit tanpa henti tak terasa lelah. Selain teknik yang benar, menikmati pekerjaan adalah kunci keberhasilan. Saya sering mendengar curhat teman-teman yang bekerja dengan gaji besar, prestisius tinggi karena menjadi bagian dari organisasi besar, mendapat akses ilmu yang banyak. Tapi, hidupnya merasa tak bermakna. Kalau saya perhatikan, intinya sih karena tidak menikmati saja.

Tiga aja dulu cukup untuk hari ini. Sebagai bonus, saya pernah menonton video dokumenter salah seorang penemu besar sepanjang sejarah: Dr. Yoshiro Nakamatsu atau biasa disebut Dr. NakaMats. Salah satu metode mencari ide yang paling ia minati adalah di kolam renang yakni dengan cara menyelam sampai batas maksimal yang ia mampu. “Otak itu bekerja optimal pada saat 0,5 detik menjelang mati” katanya. Ia mencari ilham dengan cara bermain-main dengan kondisi nyaris mati di kolam renang. Nah… kalau yang ini sih saya ga berani coba. Ntar malah mati beneran.

Salam olah raga..

Sumber foto: www.flickr.com/photos/eythor/3560338315

Jadi Supir

Ini peristiwa dua tahun lalu, seorang sahabat dari Sumatera Utara kontak saya. Rupanya dia sedang berada di kota Sumedang. Ia sedang studi banding ke DPRD kota Sumedang. Sahabat ini sudah jadi anggota DPRD sejak 2004 dan pemilu 2009 ini tetap eksis di bangku yang sama.

“Selepas acara mau singgah dulu di Bandung,” begitu dia bilang. Rencananya cuma sebentar saja singgah di Bandung, karena mereka harus langsung ke Jakarta.

Saya tanya, mereka akan naik apa dari Sumedang ke Bandung? eh ternyata mau naik bis. Wah..wah… anggota dewan yang satu ini memang suka rada aneh. Dimana-mana, yang namanya pejabat biasanya minta disiapin mobil, pake jemputan atau akomodasi yang layak lah. Tapi dia ga, malah ingin fasilitas termurah. Tempat menginapnya disana juga hotel kelas bawah.

“Tamu itu raja,” begitu kata pepatah. Mematuhi pepatah itu, saya pun ambil inisiatif menyewa mobil. Tak perlu memberitahunya, biar jadi surprise dikit-dikit. Mobil sewaan sudah tersedia, langsung saya bawa meluncur ke Sumedang. Dari Bandung sekitar 1,5 jam sudah sampai di kota tempat Cut Nyak Dien bersemayam itu.

Sampai disana, saya sms dia. “Sudah di Sumedang nih”, begitu isinya. Betul saja, dia langsung telpon dengan nada yang terkesan kaget. Menjelang tengah hari kami berangkat dari kota itu. Mendaki jalan yang meliuk-liuk menuju Bandung.

Di Bandung jalan-jalan sebentar. Lalu perjalanan ke Jakarta kami lanjutkan selepas isya.

Kami tiba di Jakarta sudah hampir tengah malam. Nyari-nyari alamat hotel tempat mereka menginap lumayan lama juga. Saya kurang paham daerah yang dituju. Sampai di hotel, eh… ternyata sudah penuh. Rekan-rekannya sesama anggota DPRD ternyata banyak yang tidak ikut ke kota Sumedang. Mereka asik-asik di Jakarta, padahal agendanya studi banding ke Sumedang. Saya diberitahu memang begitulah setiap kunjungan atau stubi banding berlangsung. Hanya segelintir yang kerja beneran, sisanya pelesiran.

Dan… yang parah lagi, kamar untuk menginap rekan-rekannya yang benar-benar mengikuti agenda tak dipesan. Dari balik stir, saya melihat mereka agak bersitegang. Maklumlah orang Medan, diskusi nyantai aja kesannya bisa seperti lagi marahan. Apalagi kalau marah beneran.

Kecewa dengan sikap rekan-rekannya itu, mereka memutuskan mencari penginapan di salah satu apartemen di kawasan utara Jakarta. Kebetulan ada sobat mereka yang tinggal di sana. Mungkin sang sobat lama itu bisa bantu mencarikan kamar apartemen untuk disewa.

Mereka pun menghubungi sang ‘kawan’ itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 dinihari. Dari nada percakapan mereka, sepertinya yang di ujung telepon sana agak terganggu. Pukul 12 dinihari itu waktu yang paling asik menikmati tidur malam. Eh.. malah diganggu ama segerombolan orang yang bingung cari penginapan di Ibu Kota yang sebenarnya menyediakan banyak sekali alternatif menginap. Tapi kenapa harus ngerepotin orang lain? Pertanyaan itu aku simpan saja. Sebab aku tau karakter orang Medan, lebih baik merepotkan orang lain daripada dianggap sombong.

Ternyata si kawan yang menjadi karyawan salah satu BUMN besar itu sudah jadi orang Jakarta beneran. Ia senewen lihat teman-temannya ini mengusiknya di tengah malam hanya karena persoalan penginapan. Kebetulan ia tinggal di salah satu apartemen di Jakarta Utara. Teman-temannya gerombolan anggota dewan ini ingin juga menginap di apertemen itu, tentunya menyewa sendiri. Biar pagi-pagi bisa sekalian silaturahmi dengan temannya yang sudah lama di Jakarta.

“Oke… aku pesankan kamar untuk kalian. Sudah tau jalan kesini?” tanyanya tanpa bisa menyembunyikan nada kantuk di suaranya. “Manalah kami tau” jawab yang menelpon di mobil. Saya tetap saja menyetir dengan kecepatan rendah agar tidak mutar-mutar nantinya.

“Mana supirnya?, biar aku saja yang ngasih tau” katanya. Telpon itu pun lalu diserahkan padaku. “Kamu supirnya?” kata orang di ujung sana, setelah saya sapa dengan “halo..”.

“Betul Pak, saya supirnya,” sebab dari tadi pagi secara teknis saya memang menjadi supir mereka. Supir sukarela tentunya yang harus membayar sewa rental dengan sukarela pula.

“Kamu tau Kelapa Gading kan?”

“Ya Pak, saya tahu,” padahal jujur, saya cuma tahu sekilas saja. Kalau disuruh kesana harus nanya-nyanya dulu. “Oke.., nanti masuk ke simpang ‘ini’ belok kanan, belok lagi. Setelah ketemu ‘itu’ nanti lurus saja sampai ketemu,’ Aduh… saya sama sekali ga mendapatkan gambaran spasial apa yang dikatakannya. “Pak saya catat dulu ya, boleh diulang?” pinta saya.

“Loh… kamu ini supir apa sih, itu kan petunjuk sudah jelas?” waduh kena semprot euy… “Baik Pak, bagaimana kalau nanti sampai Kelapa Gading saya telepon lagi?” Klik, telpon itu langsung diputus.

Kami langsung meluncur ke Kelapa Gading setelah nanya sana-sini. Maklum, ketika itu saya belum paham seluk beluk Jakarta. Kalau sekarang sih, peta om Google sudah bisa menjawab semuanya.

Sampai di Kelapa Gading saya minta orang yang tadi memandu jalan ditelpon lagi. Soalnya saya benar-benar clueless karena selain ngomongnya cepat, saya ga hapal petunjuk yang diberikan. “Halo, sudah dimana sekarang?” tanyanya begitu telpon nyambung. “Baru masuk ke Jalan Boulevard Pak” jawab saya. Ia langsung marah-marah. “Kan sudah saya bilang tadi petunjuknya, apa kamu tidak dengar?”.

Semua orang bisa mendengar percakapan itu. Teman saya yang ada di mobil, yang anggota dewan itu, langsung mengambil telepon. “Hei b**i, sopan dikit kau bicara!,” asik… ini akan jadi percapakapan ala medan. Sudah lama tak dengar yang begini. he..he…

“Yang bawa kami kesini bukan supir sembarangan,” iya lah…. saya kan supir sambilan.

“Istrinya dokter, biar kau tau,” alah… bawa istri segala, lagian istri saya bukan dokter melainkan sarjana Keperawatan.

“Dia alumni ITB,” alamak… bawa-bawa almamater segala.

“Hati-hati kau bicara, cepat minta maaf,” kata teman saya seraya mengantarkan telepon genggam itu ke saya.

Di ujung suara sana mendadak hening, lalu ia berujar dengan nada yang sangat berbeda.

“Pak, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak bermaksud kasar, saya pikir tadi supir rental,” katanya. “Baik Pak, tidak masalah. Bisa dipandu lagi menuju kesana Pak?” jawab saya. Sebenarnya tergoda juga ingin membalikkan keadaaan. Tapi sudahlah… buat apa juga.

Sampai di lokasi, masalah tak berhenti. Mereka saling beradu argumen saja. Tapi saya sudahi sampai di sini saja. Toh intinya kan pengalaman jadi supir di tengah malam di ibu kota.

Saya pulang ke Bandung malam itu juga sambil senyum-senyum. Saya jadi kepikiran, jangan-jangan saya juga sering memperlakukan orang lain secara berbeda berdasarkan status sosialnya?. Bagaimana kalau istri saya hanya buruh pabrik? bagaimana kalau saya hanya lulusan SMP? Apakah ia masih rela menyampaikan maaf begitu? Senyum-senyum saya masih berlanjut, kok bisa ya dia langsung berbalik arah begitu setelah dengar saya suaminya siapa dan lulusan mana? Apakah lulusan ITB sebegitu hebatnya dimatanya? Apakah dokter sebegitu terhormatnya?

Apa saya nyambil aja jadi supir rental ya?

sumber foto: www.shutterstock.com

Baru sekarang ‘nyoba’ lagi aplikasi wordpress untuk si hitam (blackberry). Dulu pernah pakai, tapi ampun… Lambat dan nyusahin.

Dengar-dengar ada perbaikan, jadi tergoda instal lagi. Nah ini dia percobaan pertama.

Sudah ga lemot seperti dulu, tampaknya asik nih ketak-ketik pakai papan ketik yang cuma bisa diakses dua jempol tangan ini. Mudah-mudahan jempolku ga bengkak gara-gara ini.

Fasilitas dasar untuk mengetik juga tersedia. Menebalkan bisa, huruf miring juga tersedia.

Cakep dah pokoknya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.