Feeds:
Tulisan
Komentar

Getir…, saat ini perang masih saja menjadi pilihan. Padahal rak-rak buku di perpustakaan sudah penuh dengan sejarah nistanya perang. Kita sudah belajar, juga mendengar dan menyaksikan betapa buruknya akibat dari perang.

Israel memberi kado akhir tahun kepada dunia ini dengan goresan sejarah yang kelam. Khususnya Palestina. Dengan dalih ingin menghancurkan posko rudal hamas, mereka bunuh siapa saja yang ada. Hantam dari darat, laut dan udara dengan membabi buta. Taruhlah, kalaupun hamas menyimpan senjata yang mengancam Israel, tak bernyalikah Israel umumkan perang saja dengan mereka? Adu kuat sesama militer. Supaya rakyat yang tiada berdosa tak meregang nyawa dalam ketidakterlibatannya.

Sekali lagi kita saksikan betapa tak adilnya dunia. Jelas sudah agresi terlarang digencarkan, yang mampu dunia lakukan hanyalah mengecam. Padahal beberapa tahun lalu, sebuah skenario yang tak jelas ujung pangkalnya menghantam menara kembar AS. Itu sudah cukup untuk menduduki sebuah negara, oh… bukan cuma duduk, juga menginjak-nginjak harga diri negara, agama dan kelompok. Semua atas nama anti teroris.

Orang gedung putih manggut-manggut. Sambil tersenyum merestui tindakan Israel. Gordon Johnroe, sang jubir gedung putih bilang mereka bisa memahami tindakan Israel sebagai aksi mempertahankan diri.  Inilah serunya. Kekuatan militer Hamas bila dibandingkan dengan apa yang Israel punya hanyalah bagai serangan nyamuk-nyamuk kecil dimalam hari. Korban di pihak Israel akibat serangan Hamas juga hanyalah 1 orang. Tentu kita tak bisa menisbikan arti 1 nyawa, tapi pantaskan serbuan seperti yang sedang berlangsung sekarang ini terjadi? Membunuh lebih dari 300 orang, melukai ribuan lainnya. Dan Amerika, sang polisi dunia yang doyan mengirim pasukan atas nama perdamaian itu hanya tersenyum saja.

Takutkah dunia atas bangsa berjumlah kecil ini – Israel? Jangankan turun tangan mengirimkan pasukan untuk meredakan tindakan yang memalukan ini, cap teroris juga jauh dari mereka. Hanya kecam mengecam saja. Beda dengan kasus timor-timur dulu. PBB langsung turun tangan, militer Australia juga lantas mendarat membantu apa saja yang bisa dibantu.

Getir…, menyaksikan sejarah ini melintas digaris hidup kita. Jalur Gaza menjadi titik hitam yang menodai peradaban dunia. Apa motif dibalik semua ini?

Gemes

Sebuah ironi di hari ibu

Lampu merah di perempatan Buah Batu – Bandung. Saya berhenti karena lampu yang benar-benar warna merah sedang menyala. Perempatan ini terkenal dengan durasi lampu merahnya yang sungguh lama.

perempatan-buah-batuSaya melaju dari selatan menuju utara. Berhenti tepat digaris batas yang dikasih warna putih. Menyaksikan beratus-ratus kendaraan memacu, saling berkejaran. Bagai balapan massal, mengejar kemenangannya masih-masing. Matahari bertengger diatas sana, segaris ubun-ubun.

Dari arah barat tak seberapa jumlah kendaraan. Semuanya sudah diloloskan oleh lampu hijau menuju timur. Hanya ada beberapa motor yang berjalan lamat-lamat. Pandangan saya jatuh dan lekat pada seorang ibu yang sedang membonceng anaknya pulang dari sekolah. Pelan-pelan mereka susuri jalan terpanjang di kota Bandung ini – Soekarno Hatta, alias by pass.

Belum sampai di tengah perempatan, tiba-tiba saja suara sirene meraung-raung. Tiga motor polisi tanpa aba-aba melanggar lampu merah, diikuti empat atau lima mobil mewah dengan plat khusus. Pastinya itu mobil pejabat, ntah lah pejabat yang mana.

Cekiiittt….”, si Ibu agaknya menarik pelatuk rem motor matic-nya tiba-tiba. Terleok-leok motor itu hampir jatuh dan nyaris tertubruk rombongan mobil mewah yang dikawal polisi tadi. Pucat akibat kaget menyelimuti rona wajah ibu itu. Untungnya dia tak celaka dalam haknya melintas di lampu hijau yang direbut oleh segerombolan orang yang merasa berhak melanggar aturan.

Blegug siah…!”, pekik pak Polisi yang juga kaget sambil menudingkan telunjuknya ke wajah si ibu. Si Ibu muda hanya terdiam karena tak percaya masih selamat dari berhenti mendadak seperti itu. Polisi itu melaju lagi dengan motor besarnya. Gagah dan ganteng penampilannya. Atribut-atribut yang dipakainya itu membuat ia punya hak mengubah dan memberlakukan aturan khusus. Khusus bagi pejabat. The very..very.. important person.

Orang di dalam mobil hitam mewah itu juga tak lupa membuka jendela pintunya dengan sekali sentuh dan melempar tatapan tak suka. Bahkan nyaris tatapan benci ke pengendara motor yang sedang menjemput buah hatinya itu. Ibu dan anak yang hampir habis nyawanya di perempatan buah batu.

Gemes…, gemes saya melihatnya. Aksi penguasa seperti ini bukan hanya sekali-kalinya ini aja. Atas nama agenda penting mereka bisa saja menginjak-injak aturan yang susah payah kita usahan untuk ditegakkan. Lihatlah cerminan perilaku pejabat kita saat berada di jalan raya. Lihatlah betapa risihnya mereka berbagi hak bersama di jalanan.

Mungkin pak polisi yang gagah dan siapapun orang terhormat di dalam mobil itu sedang lupa. Pejabat sehebat apapun dia, adalah pelayan rakyat. Demokrasi yang ada dalam otak mereka memang aneh. Pelayan di negeri ini bisa jadi penguasa yang “se-enake dewe” saja.

Sekali lagi saya masih gemes. Hampir saja mengutuk-ngutuk. Tapi khawatir mereka itu jadi makhluk terkutuk. Cukuplah gemes sambil berniat dalam hati untuk tetap mematuhi peraturan yang ada. Masalah pejabat itu mau patuh atau tidak dengan apa-apa yang disusunnya, biar sajalah. Toh ada dua malaikat kok yang sedang duduk bersama dia di mobil itu sambil geleng-geleng kepala dan mencoret-coret catatan.

Bersekutu dengan Preman

32 kilometer. Dalam pelukan bukit barisan, di bibir Danau Toba, jalan berkelok dan berhias kabut karena udara sejuk. Bus yang tak kenal kompromi melaju kencang. Berhenti bagi siapa-siapa saja yang melambaikan tangan untuk ikut serta diangkut. Tak peduli, seberapa penuh dan sesesak apa isi bus. Selama ada penumpang, sikat saja. Berdiri, menggantung, bahkan berjejal diatap bus.

Bus merangkak berderu-deru. Tapi erangan mesin tua itu masih kalah dengan dentuman musik. Mau dengar lagu yang sedang populer di TVRI?, ikut sajalah bus ini. Sesekali lagu pop mancanegara juga hadir. Yang paling digemari dan yang paling bisa dinikmati penumpang adalah lagu batak karo. Seperti film india. Lagu ini bisa menghapus sejenak penat dan melayang sebentar dari persoalan lalu hinggap ke dahan angan-angan. Dan memang, kalau disimak lebih lanjut, pola irama dan karakter lagu karo memang agak mirip dengan lagu-lagu india.

Begitulah perjalanan yang saban hari saya alami saat masih sekolah dasar dahulu. Sepulang sekolah, agenda rutin : Saribudolok – Kabanjahe, Sumatera Utara. Melompati perbatasan Kabupaten Simalungun dengan Kabupaten Karo. Menikmati tugas sebagai ”tukang belanja” untuk rumah makan nenek saya. Kecil-kecil, saya sudah diamanahi mengantongi duit berjuta-juta. Sampai kota Kabanjahe, duit itu saya bagi-bagi ke penjagal ayam, si tukang tahu tempe, penjaja rempah-rempah, penjual ikan, tak lupa daging sapi. Mereka sudah langganan, jadi tak perlu tawar menawar. Kami sudah mendapat diskon spesial. Sudah mendapat corporate rate, bukan publish rate lagi.

Setelah pesan ini itu, sejam kemudian saya hanya tinggal menjemput pesanan satu persatu. Bawa ke terminal, lalu menelusuri kembali jalan sempit dan berlubang bersama bus yang hanya ada dua pilihan : SIMAS atau SEPADAN. SIMAS itu singkatan dari Simalungun Atas, menggambarkan kebanggan pemilik bus pada daerahnya. SEPADAN singkatan dari Setia pada Agama dan Negara. Oh, betapa bangga saya naik bus SEPADAN ini. Terlihat pemiliknya adalah orang yang nasionalis religius.

Saya hafal betul setiap detil pasar Kabanjahe. Tinggal sebut mau beli apa, tak sampai 5 menit saya akan tunjukkan di kios mana barang itu tersedia. Tapi janganlah cari barang yang aneh-aneh.

Suatu sore, saya sudah selesai pesan semua list belanja. Tinggal menunggu saja. Seperti biasa, sambil menunggu pesanan selesai, saya makan kerang rebus dulu di sudut pasar. Selepas itu barulah mengutip barang-barang yang sudah dipacking rapi.

Dalam perjalanan menuju toko-toko langganan itu saya berpapasan dengan 3 remaja ”tanggung”. Perkiraan saya, mereka seusia anak-anak SMP atau SMA. Mereka senyum, tampak kenal sekali dengan saya. Tapi saya tak kenal sama sekali.

Tiba-tiba salah seorang yang paling besar diantara mereka langsung merangkul saya. Merangkul itu cuma pura-pura saja. Karena sebenarnya leher saya sedang dipitingnya sekuat tenaga sambil menempelkan sebilah pisau ke perut saya. Dingin, pisau itu menempel dan dingin sekujur tubuh ini.

Lantas, mereka menggiring saya ke sebuah gang di seberang pasar. Saya tak dapat berbuat apa-apa. Ukuran jumlah, mereka lebih banyak, 3 lawan 1. Soal ukuran badan, jelas saya kalah. Tak ada pilihan lain, saya tak bisa melawan. Terbayang kalau melawan, dia hanya tinggal mendorong pisau itu dan saya akan menggelepar bagai ayam-ayam di rumah potong langganan saya.

Suasana hati saya tak bisa dikontrol. Ingin menangis, tapi tak kuasa. Ingin menjerit, mulut serasa dikunci mati. Saya ikutkan saja apa yang mereka mau. Sambil berdoa agar tak terjadi apa-apa. Mendadak saya ingat rumah, ayah, ibu, dan saudara semua.

”Keluarkan semua uangmu..!, jangan macam-macam, cepat…”, si pimpinan geng itu menghardik. Dua temannya cengengesan sambil menempeleng kepala saya.

”Jam juga…!”, ah, tak ada pilihan. Jam digital merek alba kesayangan saya itu terpaksa berpisah juga.

Mereka juga ”merogoh” semua isi kantong dan tas saya. Tak ada yang tersisa. Uang, jam, topi dan tas saya diambil semua.

”Bug…”, sebuah tinju mendarat di ulu hati saya. Dunia serasa gelap. Bibir langsung membisu dan membiru menahan perih. ”Plak…”, mereka juga tak lupa menampar saya sebagai ungkapan perpisahan. Saya tersungkur karena pening. Mereka pergi begitu saja. Terkekeh-kekeh mendapat rezeki hasil rampokan hari ini.

Ludes, semua ludes. Ongkos pulang saja tak ada lagi. Dengan sisa tenaga yang terkuras akibat takut dan kena dua pukulan tadi saya lanjutkan pekerjaan mengumpulkan list belanjaan. Untuk ongkos pulang, saya pinjam duit tukang tahu dulu. Saya bilang saja tadi uang untuk ongkos pulang hilang. Mungkin terjatuh.

Kejadian itu tak saya ceritakan kepada siapapun. Saya takut. Bagaimana kalau nanti malah jadi bahan olok-olokan? Mending disimpan dalam hati saja.

Hingga tiba pada suatu siang. Hari rabu. Entah tanggal berapa, bulan berapa dan tahun berapa. Saya lupa. Yang jelas, sekitar beberapa minggu setelah kena rampok di Kabanjahe.

Hari rabu adalah hari pekan di Saribudolok. Kalau hari rabu tiba, kota kecil ini mendadak menjadi ramai. Seisi kota penuh dan berubah menjadi pasar. Pasar rakyat yang besar sekali. Kegiatan belanja dipusatkan satu hari saja dalam seminggu. Maka masyarakat desa sekitar Saribudolok akan menyerbu, membeli kebutuhan pokok.

Dari kejauhan, tiba-tiba saya lihat 3 anak yang merampok saya dulu. Kepala ini langsung panas. Aroma balas dendam memuncak dan membuat saya mendatangi beberapa preman di sekitar terminal. O ya, kehidupan kecil saya begitu dekat dengan para preman dan anak-anak terminal. Namun, saya memang hanya berhadapan dengan sisi baik preman saja. Mereka begitu setia kawan, ramah pada anak-anak, kalau mau jajan minta saja sama mereka, pasti dikasih. Tentu saja kalau kita sudah kenal mereka.

”Bang…bang…, itu ada anak Kabanjahe yang pernah merampokku…”. kira-kira begitulah saya bilang.

Tak banyak bicara, preman terminal ini minta ditunjukkan saja orangnya. Mereka, sekitar 4 atau lima orang. Menghampiri geng perampok itu, langsung mendekap mereka juga. Seperti halnya saya didekap dulu. Dibawa ke lapangan kosong. Saya mengambil jarak, tak mau ikutan ke lokasi eksekusi. 3 anak pencopet itu habis-habisan dipukuli. Ditunjang, dipukul, dibanting, dan entah diapain saja. Mukanya sampai bengkak dan berdarah-darah. Kasihan juga saya melihat mereka dihajar begitu rupa. Saya dulu cuma kena 1 pukulan dan 1 tamparan. Tapi lihat mereka sampai berdarah-darah begitu. Terkulai tak berdaya. Preman suruhan saya itu pun gantian merampok mereka. Pakaian anak-anak pencopet itu dilucuti, duitnya diambil, serta barang-barang lain.

Saya masih ditempat yang agak jauh dari TKP. Begitu selesai, preman-preman Saribudolok yang baru saja menghajar 3 anak mantan copet itu menghampiri saya. ”Kemarin kena copet berapa?”, katanya. Saya bilang ”ga tau, sudah lupa”. Lalu dia memberikan sebagian hasil copetannya yang diperoleh dari pencopet juga ke saya. Anehnya saya terima sambil senyum, dan bilang terimakasih. Dulu sih ga aneh, sekarang saja saya merasa aneh sendiri.

”Sama-sama senang kita kan??”, begitu katanya.

Wah…, saya bingung harus jawab apa. Disisi lain senang karena dendam terbalas, tapi kasihan juga mereka dihajar habis-habisan begitu.

Lalu, saya temui nenek dan mengajukan permohonan agar saya libur dulu belanja ke Kabanjahe barang 3 atau 4 bulan. Alasannya saya bilang mau belajar, tapi sebenarnya takut kalau-kalau preman cilik itu balas dendam dan gantian menghajar saya di Kabanjahe.

Memang, masuk ke lingkaran masalah preman bikin runyam. Jadi jangan sampailah…. Cukup berteman saja dengan mereka. Sebab banyak nilai positif pada salah satu sisi preman, tentunya saat mereka masih belum kehilangan akal untuk jadi anarkis. Sisanya, preman adalah makhluk yang baik budi, setia kawan, jantan, melindungi, dan peduli. Dengar-dengar ada parpol yang pakai jargon ini. Saya curiga, jangan-jangan mereka preman ya?? He..he..

Kabita Midi Controller

Sesekali kita memang perlu memberi hadiah untuk diri sendiri.

Biasanya rumah saya jadi tempat parkir alat-alat musik edCoustic. Ada gitar akustik, bass, dan kadang-kadang gitar elektrik. Bila hati sedang sunyi, fikiran mandeg dan tak kreatif mereka akan menjadi inspirasi bila diajak nyanyi bersama. Tapi sekarang yang parkir hanya bass saja. Gitarnya sudah parkir di tempat lain. Saya tak bisa ngulik bass dengan leluasa, jadi rumah serasa sepi.

Makanya di ulang tahun saya sekitar dua bulan lalu, saya jadi kabita (pengen luar biasa) nyoba alat musik baru. Sehingga diputuskanlah tanpa mengetuk palu untuk memberi hadiah pada diri sendiri sebuah Midi Controller. Memang tak se-instant keyboard, tapi kalau dipadu dengan laptop perjuangan saya ini, sound library yang asoy dan Nuendo saudara kembarnya Cubase akan menjadi asik.

Cari punya cari, pilihan jatuh pada Midi Controller Behringer UMX 49. Alasannya tuts-nya lebih menyerupai grand piano, agak-agak berat gitu. Tapi alasan utamanya adalah karena menurut informasi, device ini yang paling murah meriah. Meski hadiah untuk diri sendiri, tapi ga lantas berfoya-foya kan…? he..he…

Namun sayang beribu sayang, setelah berburu Behringer UMX 49, harganya ternyata tak murah lagi. Mungkin terpengaruh krisis global dan melonjaknya dollar dimata rupiah. Harganya 1,5 juta. Itupun sudah diskon. Karena harga publish-nya 2,1 juta. Ah… sedih hati ini. Bagai pacar yang ditolak lamarannya, bagai pegawai yang tak dapat naik gaji, saya pulang dengan sedih. Sebab harga itu masih jauh dari anggaran semula. Bisa saja sih maksain beli, apalagi sudah kadung kabita. Tapi saya juga harus pandai-pandai mengontrol diri sendiri sebelum mengontrol komputer dengan midi controller.

Setelah kalah tak membawa hadiah apapun juga untuk diri sendiri, saya dapat rekomendasi dari seorang teman yang juga arranger album yang saya produseri. “Bang.., cari di jalan pungkur aja, disana biasanya ada barang yang asik-asik”. Maka meluncurlah saya kesana, dan memang kebetulan lewat daerah sana. Eh…, ternyata benar. Masih ada Midi Controller yang harganya nyaris 1/2 dari Behringer yang terkenal paling murah itu. Mereknya M-Audio Keyrig 49. Oh aduhai senangnya hati ini. Budgetnya sesuai anggaran. Maka dengan sumringah, saya bawa pulanglah si controller idaman itu. Hadiah ulang tahunku sudah ada. Hore..hore… Ini pantas untuk dirayakan.

Hadiah untuk Diri Sendiri

Hadiah untuk Diri Sendiri

Sekarang tantangannya lebih besar. Bagaimana saya bisa bermain keyboard dengan baik? Harus belajar dari awal lagi euy…. Kalau ada yang punya trik bagus bermain piano bolehlah sharing-sharing.

Kenduri 10 Trilyun

Undangan sudah disebar. Tahun 2009 nanti ada kenduri nasional. Besar-besaran. Seluruh rakyat yang duduk dan berdiri di gugus pulau nusantara diundang. Taksirannya 171 juta lebih penduduk akan ikut serta. Yang tak hadir siap-siap saja jadi golongan putih. Golongan yang akan “dicaci maki” panitia dan partai-partai.

Panitia dikasih nama KPU. Mereka minta dana nyaris 50 Trilyun untuk biaya kenduri ini. Tapi pemerintah  cuma kasih 10 Trilyun lebih, tepatnya 10,4 trilyun. Kasihan… KPU tidak senewen dipangkas sesadis itu. Kenduri tetap akan digelar. Marilah bertanya mengapa.

10,4 Trilyun itu anggaran untuk panitia. Belum lagi anggaran yang disiapkan 34 peserta pemilu 2009. Wah.. kenduri ini akan semakin semarak menghamburkan uang kertas yang biasa kita pakai untuk menjaga perut tetap tenang sehari-hari.

<a href=Kenduri politik, orang pintar bilang “pesta demokrasi”. Ini benar-benar akan menjadi pesta besar. Kita akan libur dari kerja untuk masuk ke bilik “contreng”. Kita akan deg-degan menanti quick count. Syukur-syukur tak ada maniak yang mengerahkan massa untuk mengamuk karena tandas hasil pemilihannya. Beratus, bahkan beribu orang yang sekarang pasang spanduk di jalanan akan duduk cengengesan di kursi dewan menikmati hasil “contrengan”. Kita juga akan punya sepasang kepala negara baru, buah dari kenduri setanah air.

Lalu apakah semua ini worthy? tergantung pada kecenderungan politik, kepercayaan, dan keluguan kita masing-masing.

Anjing…

Itu kata yang kasar bukan???

Kosa kata “anjing” sudah melekat asosiasi kasar. Panas hati kita bila disebut anjing, apalagi sebutan itu mengarah pada diri kita. Saya sampai heran, di Bandung pemudanya gandrung sekali menyebutkan anjing. Sedikit-sedikit muncrat kata anjing. Seperti kalimah dzikir saja. “njing..njing…”, itu gampang sekali muncul dalam percakapan sehari-hari. Padahal Bandung terkenal dengan budaya ramahnya.

Terlebih dalam sudut pandang agama. Tak tanggung-tanggung, anjing eksplisit dinyatakan sebagai binatang haram. Terkena liurnya saja harus disamak. Anjing tak boleh masuk rumah. Tak boleh dimiliki seorang muslim kecuali dia sebagai penjaga kebun atau hal-hal lainnya yang jauh dari jangkauan kehidupan sehari-hari manusia.

Ditambah lagi tampang anjing yang menyeramkan. Giginya kokoh tak terbantahkan. Sekali gigit bisa merobek daging. Menyebarkan penyakit rabies yang bisa membuat kita tolol seumur hidup.

Lengkap sudah alasan mengapa kita harus menjauhi anjing. Melekatkan asosiasi buruk padanya. “Sumpah…, saya takut betul dengan anjing. Ayo kita pergi saja dari sini”, begitu kata teman saya saat kami bertamu ke rumah seorang kawan. Mukanya pucat, lebih putih dari biasanya, tiada dibuat-buat. Bibirnya membiru bagai dikecup hantu.

Di tempat lain, ada orang yang hidup mesra bersama anjing. Biaya pemeliharaannya pun bisa melebihi biaya operasional sebuah panti asuhan. Tidur sekamar dengan sang majikan, sekasur bahkan. Dibelikan baju, shampo, pita, dan tempat tidur istimewa. Yang lebih tak masuk akalnya, kadang-kadang sipecinta anjing ini sampai menempatkan perikeanjingan diatas segala-galanya.

Saya sendiri punya pengalaman dalam hubungan emosi manusia-anjing ini. Saya masih kecil dulu , jadi belum ngerti halal-haram. He..he…

dogDulu kami punya seekor anjing untuk menjaga kebun. Ia kami adopsi sejak masih bayi. Anjing kecil itu dibuang oleh yang punya karena mungkin sudah frustrasi karena anjingnya beranak melulu. Warnanya coklat keemasan, pipinya tembem, senyumnya merekah. Lucu sekali.

Sialnya kalau malam dia suka mengganggu. Berkaing-kaing tak karuan. Barangkali kedinginan dan naluri minta disusui sedang memuncak.
Akhirnya kami buatkan ia sebuah kandang kecil lengkap dengan selimut di dalamnya dan sebuah tempat minum. Susu yang dia minum sama saja dengan yang kami minum sehari-hari.

“Astra”, itulah nama yang kami sematkan padanya. Berhari-hari kami memanggilnya astra untuk memperkenalkan bahwa nama itu miliknya. Akhirnya Astra mengerti. Setiap mendengar kata itu ia langsung menggoyang-goyangkan ekor. Menganggukkan kepala.

Singkat cerita, Astra menjadi teman yang begitu setia dan menyenangkan bagi saya yang masih belum sekolah. Saban hari Astra menemani saya bermain apapun. Ia tumbuh menjadi anjing yang sopan dan juga pintar. Ia tak mau masuk kedalam rumah. Dan bila ia bandel masuk juga, kami tinggal bilang “keluar” dengan intonasi lembut, maka Astra pun keluar. Menunggu di depan pintu.

Saat saya sudah masuk SD. Setiap pulang sekolah, Astra lah yang menyambut dari kejauhan. 100 meter menjelang rumah dia sudah berlari kegirangan menyambut bagai seorang pemuda dalam film India yang akan bertemu kekasihnya. Terasa sekali sambutan hangat itu. Sambil menggoyang-goyangkan ekor pertanda senang, biasanya Astra memancing saya untuk ikutan berlari bersamanya.

Tanpa menolak dan mengeluh Astra selalu siap diajak kemanapun. Mandi ke telaga ia ikut, bermain ke hutan Astra turut, kelapangan bola juga dia manut. Hanya sayangnya, kalau sudah ketemu anjing betina, Astra akan berubah menjadi anjing yang menyebalkan. Apalagi kalau ketemu anjing jantan, bawaannya mau bertengkar melulu.

Ke sekolah saja Astra tak boleh ikut. Itupun karena dilarang guru.

Saya yakin, Astra juga paham emosi yang sedang saya rasakan. Saat sedih, dia juga turut sedih. Terduduk di bawah pohon sambil menatap dalam-dalam mata saya. Mungkin dia sedang bilang “saya turut prihatin pak bos..” Kalau sedang gembira, maka Astrapun turut gembira. Seolah ikut merayakan apa yang membuat saya senang.

Saya punya trik jitu menghadapi situasi saat kita sedang berhadapan dan digonggong anjing. Tatap saja matanya dalam-dalam dan katakan dalam hati “kawan… jangan rewel ya… aku ini temanmu!”. Teknik ini tak pernah gagal, suer…! Tapi saya ga yakin akan berhasil untuk anjing gila. Hanya berhasil untuk anjing waras saja. Saya yakin anjing itu bisa mengerti apa yang kita maksudkan.

Saya merasakan hal itu ketika berteman dengan Astra. Saya pernah mengajarinya bagaimana membuka pintu. Hanya dengan menyuruhnya “buka pintunya astra…!” sambil membayangkan kalau dia mengerti. Tak perlu waktu lama. Hanya beberapa kali percobaan saja sudah berhasil. Awalnya dia memang cengengesan saja. Tapi lama kelamaan ia mengerti juga apa yang kita maksudkan.

Apakah anjing itu adalah hewan yang bisa mengerti bahasa manusia? Wallahu ‘alam. Saya tak tau. Tapi menurut tim peneliti dari Universitas Lincoln yang dipimpin Dr Kun Guo menemukan bahwa binatang berkaki empat itu bisa membaca kesedihan, kegembiraan, kemarahan, ataupun kegelisahan di air muka manusia, bahkan bila ditutupi sekalipun.

-Mengenang sahabatku Astra yang tewas ditabrak truk 15 tahun yang lalu-

Kemarin Mas Hernowo bawa buku Maryamah Karpov dan menunjukkannya ke saya. Ini adalah buku terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi yang fenomenal itu. Saya termasuk orang yang menikmati betul tiga buku sebelumnya. Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Jadi begitu liat sampul buku Maryamah Karpov mata saya langsung terbelalak.

Maryamah Karpov

Maryamah Karpov

“Sudah terbit ya Mas?”

“Belum, besok baru launching. Paling minggu atau senin baru tersedia di toko Buku. Tadi saya ambil dari kantor”

Mas Hernowo adalah anggota dewan komisaris Mizan Pustaka. Jadi bisa saja ngambil buku yang fresh from the oven. Tebal juga buku itu, membuat saya ngiler untuk segera membacanya.

Terlepas dari kritik atas novel Laskar Pelangi dan lanjutannya, saya menaruh apresiasi yang begitu tinggi atas karya Andrea Hirata. Indonesia sekali, tapi dengan sudut pandang yang terhormat. Umumnya kita sendiri sudah terbiasa memposisikan Indonesia dengan citra yang kurang baik. Tapi Hirata berani membuncahkan Indonesia dengan penuh semangat, mengedepankan kerja keras, dan menginspirasi semua orang. Hebatnya lagi, banyak pengakuan yang menyatakan bahwa tetralogi Laskar Pelangi adalah buku yang menggerakkan. Mampu mengubah orang dan sanggup menyalakan api semangat pembacanya.

Mas Hernowo juga sependapat dengan saya kemarin siang. Beliau menyatakan dari sekian banyak novel laris, karya Andrea Hirata punya keunikan dan keistimewaan. Novelnya digandrungi pasar tapi tidak kacangan. Ada kualitas dan nilai moral tinggi yang terkandung dalam novelnya.

Sudah banyak yang menanti-nanti Maryamah Karpov muncul. Saya sendiri masuk dalam antrian penunggu itu. Jadi, selamat datang Maryamah…

Berlipat-lipat

Akhir tahun lalu

Dua minggu sudah saya “dikarantina” di kota Bogor. “Demi terburunya deadline proyek”, katanya. Sungguh… benar-benar melelahkan dikejar segudang pekerjaan dalam waktu singkat. Pagi hingga malam monoton, hanya itu-itu saja yang dihadapi. Tidur pun tak nyenyak, dan memang juga mungkin karena tak nyaman.

Saya putuskan untuk istirahat dulu dua hari. Pulang ke Bandung. Tidur di kasur sendiri yang paling nikmat dari kasur hotel manapun di muka bumi ini. Selepas subuh, matahari belum memeluk bumi. Saya berangkat menumpang travel menuju Bandung. Lelah sekali, sebab semalaman saya tiada tertidur. Tujuan ke Bandung hanya satu, bisa tidur nyenyak dan dapat energi baru lagi.

Sepanjang jalan puncak, cianjur, padalarang hingga Bandung saya juga tak bisa tertidur. Kagum atas lukisan pagi dengan cahaya lembut mentari mengelus bumi. Tapi sampai di Bandung, lelah itu begitu terasa. Ingin rasanya segera terhempas di kasur dan terpejam dalam alam mimpi. Biarlah tubuh ini memperbaiki sendiri sel-sel yang sudah aus akibat dipaksa bekerja.

Pukul 8 pagi saya sudah tiba di Bandung. Langsung Saya beli beberapa makanan ringan sekedar pengganjal perut. Lalu melangkah gontai terhuyung-huyung bagai tentara kalah perang menuju rumah yang tak bisa dilalui oleh mobil. Hingga saya terpaksa jalan kaki, meski berat sekali rasanya.

Beberapa pintu menuju rumah tinggal, saya bertemu seorang lelaki. Dia itu tetangga saya. Wajahnya gusar, langkahnya terburu-buru tak menentu. Ia memegang karung yang ntah apa isinya. Kami berpapasan, dan dia berhenti sejenak. Membuat saya juga menghentikan langkah. Sebab bahasa tubuhnya mengajak saya bicara. Duh… malas sekali sebenarnya. Saya sudah rindu kasur.

“Kang, mau beli beras saya?”

“Wah, kok nawarin beras ke saya sih”, saya membatin. Kesal juga dihati.

“Istri saya mau melahirkan Kang…, dana saya tidak cukup”

“O…, berapa duit Kang semuanya?”, saya harus ambil short cut agar urusan dengannya bisa cepat selesai. Saya tak ada fikiran dia akan menipu atau tidak, karena saya tau istrinya memang hamil besar.

“Ini saya beli sekitar 40 ribuan, terserah Akang mau bayar berapa”

“Ok, saya beli. Ini seratus ribu”, saya keluarkan duit di dompet. Langsung serahkan ke dia. Saya juga terima beras itu. Sebenarnya ada juga terbesit rasa sayang, seratus ribu untuk sekarung kecil beras yang tidak akan saya manfaatkan. Tapi tak mengapalah, untuk membantu orang yang kesusahan. Lagi pula apalah artinya seratus ribu untuk biaya persalinan di jaman sekarang ini? Saya langsung ganti niat, dari jual beli menjadi sedekah.

“Terimakasih Kang”, katanya

“Eh… tunggu dulu Kang. Beras yang baru saya beli tadi saya kembalikan. Barangkali bisa dijual lagi”

Dia terima beras itu lagi. Syukurlah, urusannya cepat selesai. Tujuan utama saya adalah istirahat. Titik..

Baru saja saya masuk pintu kamar, hp berdering. “Oh… siapa lagi sih yang akan mengganggu rencana istirahat total saya ini?”. Rencananya, begitu sampai kamar hp akan saya matikan saja. Biar tenang istirahatnya.

“Halo… dengan Pak Irfan?”

“Betul Bu, saya sendiri”

“Apa kabar Pak?”

“Alhamdulillah sehat Bu”, sebenarnya pengen bilang ‘Bu… saya mau istirahat, nanti saya telpon balik’. Tapi khawatir ga sopan.

“Begini Pak, kami sedang ada project. Butuh sedikit bantuan Bapak. Ga banyak kok, cuma memberikan masukan saja. Tidak ada kegiatan teknis”

“Baik Bu, insya Allah saya usahakan. Mohon kirim detailnya via email saya ya Bu..”

“Ok, terimakasih ya Pak. O ya, kami siapkan setidaknya 3 juta untuk ini”

“He..he… terimasih Bu”

“Sama-sama. Assalamu ‘alaikum…..”

Klik disana, tanda diputus. Berarti wa ‘alaikum saya tak terdengar juga olehnya.

Saya langsung terhenyak. Baru saja beberapa menit lalu saya mengeluarkan duit 100 ribu dalam jual beli yang akhirnya saya sudahi dengan mengganti niat menjadi sedekah. Sekarang langsung diganti dengan faktor pengali berlipat-lipat. Syukur alhamdulillah, saya merasa ini adalah bukti yang saya rasakan dengan amat nyata mengenai manfaat sedekah.

Ya.., sedekah memang tak menaati kaidah aritmatika. Operator matematikanya tak stabil. Perkalian, penjumlahan, pembagian dan pengurangan tak sanggup membentuk rumus sedekah. Tanda sama dengannya juga susah diduga-duga kapan munculnya. Untuk kasus saya tadi, tanda sama dengan muncul dalam hitungan kurang dari 5 menit. Menggunakan faktor pengali 30 kali lipat.

Bukan digantinya duit saya itu yang menjadi poin penting pengalaman ini. Melainkan betapa bersyukurnya saya telah diberi kesempatan untuk semakin meneguhkan keyakinan dihati atas nilai kebaikan sedekah. Semoga gemar sedekah ini menjadi karakter yang tertanam dalam sanubari kita. Amin…

Aku Ingin Menyerah

“Sudahlah, aku ingin menyerah saja”

“O ya?, baiklah.. aku akan bilang ke orang-orang bahwa kau sakit. Mungkin mereka justru akan merasa senang”

“Tapi kau tau kan aku tidak boleh menyerah?”

“Ya.. aku tahu persis. Aku hanya ingin memastikan bahwa engkau juga tahu”

Be Your Self

Be Your Self

Itulah kira-kira secuplik dialog yang paling saya suka di film The Legend of Bagger Vance. Junuh, si anak muda frustasi namun berbakat besar dalam olah raga golf, sedang uring-uringan karena permainannya jelek. Sedangkan Bagger Vance, yang diperankan Will Smith berakting sebagai pembimbing atau mentornya. Jarang ia menggurui Junuh. Bagger Vance adalah seorang mentor yang show the way. Ia menyadarkan dengan cara mengajak menyelami samudra kebijaksanaan. Status Bagger juga hanyalah seorang caddy (pembantu pemain golf), tapi ia mampu berperan sebagai seorang mentor sejati.

Kadang-kadang kita memang sudah memiliki jawaban atas permasalahan yang kita hadapi. Tinggal perlu “menyentilnya” sedikit saja.

Over Tune

Salah satu teknik membuat lagu lebih emosionil dan tidak monoton adalah dengan over tune. Sederhananya, over tune berarti menaikkan nada dasar lagu. Harmoni dan komposisinya tetap sama. Sekilas terdengar tak ada perbedaan. Tapi menaikkan nada dasar ditengah-tengah lagu akan membuat lagu itu terasa asik dan dinamis.

Over tune dalam satu lagu memberi penekanan emosional saat kita mendengarkannya. Ibarat orasi, over tune adalah menaikkan nada suara untuk menekankan maksud.

Dengan menyelipkan over tune di sebuah lagu, dinamisasinya akan lebih terasa. Lebih menyayat hati bila temponya mello, lebih bersemangat jika bertempo ngebit.

Dalam berbagai sisi hidup kita, ada sebuah kemiripan dengan lagu. Yaitu perulangan yang terus menerus, bahkan terkesan monoton. Sebenarnya komposisi sebuah lagu atau musik adalah sesuatu yang monoton. Tapi kenapa mendengarkan musik justru kontradiktif dengan substansi pembuatan musik itu sendiri? Meski didengarkan berkali-kali tetap saja tak kunjung bosan. Alasannya karena musik adalah kumpulan kemonotonan yang disusun harmonis bersama beberapa variasi tertentu.

Di dunia kerja, tak sedikit diantara kita menghadapi proses yang itu-itu saja setiap hari. Terkadang malah membuat jiwa kosong, tergerus oleh rutinitas tiada henti. Esensinya, lagu juga adalah rutinitas yang dibubuhkan dalam bar ke bar. Bar yang dimaksud bukanlah bar kafe, melainkan satuan periode rutinitas musik. Tapi musik menjadi indah dan menarik karena rutinitas drum section diselimuti bass section yang juga monoton. Lalu tingkah-tingkah string section , guitar section, dan section-section lain yang membawa variasi menarik. Lagi-lagi ini juga sebenarnya sebuah rutinitas monoton. Namun, aransemen lagu akan terasa nyaman ditelinga meski disusun dari hal-hal monoton.

Bila kesan monoton masih muncul juga, salah satu solusi yang bisa diambil yaitu menaikkan nada dasar ditengah-tengah lagu. Inilah yang disebut over tune tadi.

Dengan rutinitas yang kadang-kadang memojokkan kesendirian kita dan merampas kenikmatan menjalani hidup, mungkin kita bisa sedikit meniru proses membuat aransemen lagu tadi. Yaitu memadukan kemonotonan dan melakukan over tune dalam hidup ini.

Over tune dalam hidup berarti menaikkan selangkah standar kerja kita. Jika sebelumnya rutinitas kerja menuntut kita mencapai target sekian, tak ada salahnya di over tune menjadi sekian plus satu. Selain pendekatan kuantitas, bisa juga menaikkan standar kerja dari sudut pandang kualitasnya. Menaikkan standar jelas akan membuat hidup lebih segar.

Layaknya sebuah lagu over tune yang menaikkan nada dasar untuk mencapai tingkat klimaks emosionil. Hidup juga bisa kita over tune untuk menjadikannya lebih dinamis.

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »