Warna-warni Dexter dan How I Met Your Mother

Sejak 2011 lalu ada dua film serial yang memikat hatiku. Sama halnya ketika masa kecil dulu selalu menanti serial Gaban, Lionman, Megaloman, Ultraman, Satriabaja Hitam. Kini aku selalu menanti episode berikutnya muncul. Kedua serial itu adalah Dexter dan How I Met Your Mother. Meski berbeda genre, aku benar-benar menikmati alur cerita kedua serial ini. Dexter adalah serial kriminal seorang pembunuh berantai yang menderita psikopat. Sementara How I Met Your Mother kisah komedi romantis yang mengangkat cerita lima sekawan di kota New York.

Dexter

myWPEditImage Image

Dexter Morgan namanya, seorang polisi bagian lab di Kota Miami. Tepatnya, Dexter mendapat tugas sebagai penganalisis percikan darah. Ia bisa menjelaskan bagaimana seseorang dibunuh lewat jejak darah di lantai, dinding, dan objek lainnya. Bersama adiknya, Debra Morgan, ia meniti karir di kepolisian ini. Mereka berdua anak yatim piatu. Deb, adalah perempuan cantik yang sangat berambisi menjadi polisi berprestasi. Sementara Dexter selalu tampak kalem.

Bedanya lagi, Dexter ini seorang psikopat yang sangat lihai menyembunyikan keaadannya. Sumber lain menyebutkan Dexter ini sociopat. Apa bedanya? Ntah, kita pakai istilah psikopat saja. Dexter punya naluri selalu ingin membunuh. Dia bahkan sudah membunuh puluhan orang, memutilasinya, memasukkan ke karung, dan ditenggelamkan di laut. Korbannya dibawa kelaut dengan perahu pribadinya sendiri.

Film ini sadis sesadis-sadisnya. Bagaimana membunuh, percikan darah, potongan tubuh manusia, dan ekspresi korban semua ditampilkan dengan fulgar. Tambah lagi, sang penulis skenario pintar betul membawa kita merasakan apa yang dirasakan oleh Dexter sang psikopat itu. Kita seolah-olah diboyong ke situasi yang Dexter alami. Seorang anak yang ditinggal mati tradis ibunya. Ibunya dibunuh di bak kamar mandi. Dexter ditinggal dalam genangan darah ibunya sendiri. Seorang polisi menyelamatkannya dan mengangkatnya sebagai anak. Polisi yang bernama Harry Morgan ini lah yang pertama kali mengenali karakter psikopat Dexter. Ia pula yang mengajarkan Dexter bagaimana mengendalikan “penyakit kutukannya” itu. Bahkan sesudah Harry mati, Dexter masih bisa berkomunikasi dengan Harry. Ini menegaskan Dexter memang psikopat akut.

Aku tidak menggemari kesadisan yang ditampilkan film ini. Bahkan sering mual dibuatnya. Tapi, drama dibalik usaha Dexter mengendalikan sifat monsternya dan bagaimana ia sembunyi itu yang menarik. Beban yang sangat berat baginya. Ini disampaikan dengan detail sekali.

Dexter adalah pembunuh tampan, kalem, sekaligus “baik hati”. Baik hati karena ia hanya membunuh mereka yang jahat dan tak tersentuh hukum saja. Misalnya karena bukti tak cukup atau memang kasus yang sulit dipecahkan. Sederhanya, Dexter itu seperti Robinhood. Robinhood pencuri baik hati dan Dexter pembunuh yang milih-milih.

Semua korbannya dibunuh dengan ritual khusus. Sebelum dieksekusi, Dexter mengumpulkan sampel darah korbannya lalu menceritakan apa saja dosa-dosa sang korban. Mau mengakui atau tidak mengakui, Dexter akan menghukumnya sampai mati. Bagaimana pisau ditusukkan ke jantung, bagaimana ia memutilasi, semua ditampilkan hampir tanpa sensor.

Meski menarik, akhirnya aku memutuskan tidak lagi menonton Dexter. Khawatir ketularan. He..he..

How I Met Your Mother

myWPEditImage Image

Nah… kalau film ini baru seru. Lucu dan penuh kejutan.

How I Met Your Mother menceritakan lima orang yang sejak kuliah sudah berteman. Hingga ke kehidupan profesional mereka tetap berteman. Setting utamanya ada di kafe tempat mereka saban hari bertemu. Yang aku suka dari serial ini adalah masing-masing orang punya karakter unik. Kelucuan yang muncul terkesan tidak dibuat-buat.

Aku memang tidak sejak awal mengikuti film yang berlatar cerita kota Newyork ini. Baru ikut di tengah-tengah, tapi suasana akrab kelima sahabat ini benar-benar memikat. Aku belum bisa cerita banyak tentang How I Met Your Mother ini karena masih sedikit mengikutinya. Karena itu berencana mengoleksi serial ini. Di pasar Kota Kembang Bandung pasti banyak yang jual, he..he.. (pembajak detected). Tapi nontonya sempat kapan ya?

Selanjutnya, film apa ya yang recomended untuk ditonton? Tolong ya, dikasih saran.

Sang Motivator

Kalau engkau ingin merasakan aura orang yang selalu berpandangan negatif, temui lah Tony. Cara berpikirnya, komentar yang ia keluarkan, mimik wajahnya, gesture-nya, seolah-olah telah terlatih membuat orang lain kesal.

Tapi belakangan Tony menghilang. Tak ada kabar berita. Timeline di akun facebook dan twitternya kosong. Tony lenyap dalam sekejap. Padahal tiga hari lalu dia baru misuh-misuh mencaci tayangan televisi yang katanya sampah semua.

Aku coba membuat daftar semua kemungkinan. Sherlock Holmes mengajarkan untuk tafakur sejenak, merangkai detail-detail yang ada dan menemukan hubungan.

“Barangkali Tony masuk NII,” ini dugaan pertama. Tapi, Tony tak mungkin masuk NII. Dia kan non-muslim. Coret dari daftar.

“Tony pasti diculik. Nanti penculiknya minta tebusan satu miliar. Kalau tidak dibayar, Tony akan dibunuh.” Tapi… siapa yang mau menculik makhluk tak bergengsi ini? Siapa yang mau menculik manusia kribo dan jarang cuci rambut seperti dia? Kemungkinan ini juga gugur seketika.

“Dia kawin lari,” oh… tak mungkin. Liat cewek cantik aja Tony tak sanggup menatapnya. Apalagi bawa anak orang kawin sambil lari.

“Tony cari kerja jadi supir angkot,” hm… boleh juga analisanya. Tapi Tony kan belum bisa nyetir mobil.

“Pulang kampung,” tak mungkin. Kemarin Ibunya telepon tanya dia mau dikirimi berapa duit bulan ini.

“Tony meninggal,” astaghfirullah. Ternyata aku tak berbakat mengikuti gaya Sherlock Holmes.

Sudahlah, tak perlu pikirkan kemana dia pergi. Ada baiknya juga Tony tak berada disini. Dunia jauh lebih cerah tanpa kehadiran pikiran sinisnya.

tiga hari kemudian

Saat aku membuka pintu rumah kos, Tony sudah ada di ruang tengah. Ia duduk di kursi sambil meneguk perlahan secangkir teh panas. Srrrluup… ah.. mantaap, katanya seolah menikmati seisi dunia dengan tegukan teh itu.

“Hei boneng, kemana saja kamu?”

Boneng itu memang panggilan paling pas buat Tony. Nama Tony terlalu keren untuk dia sandang. Selain kribo tak menentu, Tony juga punya gigi yang maju setengah langkah lebih depan. Itu sebabnya dia disebut boneng. Tony tak pernah protes.

“Ho.ho… aku sekarang jadi orang baru,” Tony berdiri dari kursinya.

“Boneng yang lama sudah tak ada lagi. Sudah kubunuh dia,” Tony kembali duduk.

Aku terdiam mencoba menganalisa aroma ruangan. Jangan-jangan dia lagi mabok. Kalau mabok pasti ada bau alkohol.

“Sekarang panggil aku Tony Sang Motivator,” Tony berdiri kembali.

“Sudah cukup, kamu dari tadi duduk, berdiri, duduk. Pertanyaanku belum dijawab. Kamu dari mana? Ibumu sudah panggil dukun untuk melacak mayatmu.”

Sekarang Tony duduk lagi. Ia cerita. Begini kisahnya.

–story begin–

Minggu lalu Tony terlibat diskusi dengan seorang wanita. Diam-diam Tony menaruh simpati pada wanita asal Nusa Tenggara ini. Baru kali itu dia dapat balasan kesinisan orang lain padanya. Selama ini Tony hanya melempar sinis kemana-mana. Tapi, di saat hatinya berbunga, sang pujaan hati menusukkan sinis yang tak kepalang ke ulu hatinya.

“Mas Tony, kamu ini jalan berpikir dan tingkahnya aneh bukan main. Siapa yang mau berteman denganmu?” tohok sang wanita dengan kata-kata.

Di rumah Tony terkulai lemas. “Jangankan ingin menjalin hubungan istimewa, berteman saja dia tak mau denganku.” Begitu suara-suara berdentingan di kepalanya.

Tony kehilangan kendali. Dia harus cari solusi. Kebetulan ada brosur training motivasi. Tony langsung lari. Ke kota tempat workshop pengembangan diri. Tony tak mau kasih informasi. Dia berangkat sendiri.

Empat hari Tony terpukau melihat bagaimana dahsyatnya sang motivator menggodok peserta yang butuh suntikan motivasi itu. Mereka berteriak. Mereka berafirmasi. Mereka berjanji. Dan mereka saling menguatkan diri.

Tony lantas memilih jalan hidup. Ia ingin jadi seorang motivator. Ia terkesima betul dengan karisma yang terpancar dari motivator-motivator yang membakar jelaga sinis dalam dirinya. Tony merasa bersinar. Sinar yang entah dari mana hadir menerangi jalan pikirannya.

Tiba-tiba ia teringat Santi, wanita Nusa Tenggara yang ia cintai itu. Santi pasti kagum kalau aku bisa berubah. Apalagi kalau berubah menjadi motivator, pasti keren sekali.

–end of story–

Plok..plok..plok… aku tak kuasa menahan diri untuk bertepuk tangan. Akhirnya, si dementor kini beralih menjadi sang motivator. Sungguh mulia.

tiga hari kemudian

Salam Super!, sumber istock.com


‘Tony Sang Motivator Terhebat dan Terbringas’ begitu ia mencetak julukan di kartu namanya. Ia singkat menjadi Tony SMTT. Gelar itu ia sematkan untuk meningkatkan daya jual. Business as usual  dalam dunia permotivatoran.

Hari ini Tony SMTT meringkuk di kamar. Tubuhnya seolah kehilangan energi yang tiga hari belakangan levelnya naik hingga ke puncak.

“Aku kehilangan semangat,” katanya lesu. Setelah kena sambar amarah dosen wali yang tau Tony cabut lebih dari tiga hari, energi hasil pompaan motivator handal langsung tandas.

“Aku mau ikut seminar motivasi lagi,” Tony seperti ketagihan narkotika.

Lalu kukatakan padanya.

Mas Boneng, kamu pasti menjadi motivator handal suatu hari nanti. Motivasi bukan teori. Bukan pula ilusi. Motivasi adalah pengenalan diri. Diri yang mampu engkau buat terkendali. Setidaknya untuk diri sendiri.

Salam motivator…. Dan salam segala-galanya.

Fiksi, kisah hampir nyata adanya.

Dua Tahun Lebih Usiamu

Aku belum pernah nulis tentang anakku di blog ini.

Empat bulan lalu, anakku ulang tahun yang kedua. Fathin namanya. Kami baru sepakat mengenai namanya hampir sebulan sejak kelahiran Fathin. Praktis, sejak lahir hingga mendapat nama ia hanya dipanggil Dede’.

Kini Fathin telah berusia dua tahun lebih. Pengalaman menjadi ayah benar-benar luar biasa. Fathin lahir persis setelah adzan subuh berkumandang. Aku ikut menemani perjuangan bundanya saat melahirkan Fathin. Kalau engkau ikut menyaksikan penderitaan yang dialami seorang ibu saat melahirkan, engkau akan mengerti kenapa surga itu ada di telapak kaki Ibu.

Aku merasakan getaran cinta yang teramat sangat saat pertama menggendongnya. Meletakkan tubuh mungil itu di sisi bundanya dan segera melakukan inisiasi menyusui dini. Detak jantungnya adalah irama terindah yang pernah aku dengar. Tangis pertamanya adalah bahagia tiada tara. Saat adzan kukumandangkan di telinganya, Fathin terdiam. Sampai di usia dua tahun ini pun Fathin selalu tertegun diam kalau dengar adzan di tv.

Dua tahun kami menyaksikan pertumbuhannya. Tak bisa tidur ketika ia sedang sakit. Ingin rasanya sakit itu dipindahkan saja ke tubuhku. Terjatuh saat ia belajar berjalan dan berlari bukan sekali dua kali. Sering ia produksi tangis tanpa kenal tempat dan waktu.

Fathin Ahda Dewantara

Bagiku, kehadirannya adalah rahmat terindah. Dengan segala riuh rendah pengalaman bersamanya. Kini aku mengerti makna buah cinta. Buah tak selalu terasa manis. Tapi dengan cinta semua indah rasanya.

Ceramah Ramadhan yang Paling Berkesan

Tiga puluh hari masjid-masjid penuh dengan beragam kegiatan ramadhan. Sholat taraweh berjamaah jadi menu utamanya. Umumnya, selepas sholat isya, sebelum taraweh dimulai, ada yang namanya ceramah taraweh. Kurang lebih sejenis dengan kuliah singkat agama.

Masjid Salman ITB jadi tempat favoritku menjalani malam-malam ramadhan. Tema ceramah di masjid kampus ITB ini sangat variatif, tidak klise, dan membuka wawasan. Ada satu ceramah yang sampai saat ini masih melekat kuat dalam ingatan. Setiap ramadhan tiba, aku lantas teringat dengan sang penceramah. Sayangnya ceramah itu tak disampaikan di Masjid Salman ITB.

Pada suatu malam di tahun 2007 aku sholat taraweh di salah satu Masjid di daerah Sukaluyu Bandung. [Nama masjidnya lupa]. Selepas sholat Isya, seorang sepuh naik mimbar, siap-siap menjalankan tugas sebagai penceramah. Ia mengenakan jas berwarna coklat tua. Berkacamata dan sebuah peci yang tak lagi sempurna warna hitamnya ‘nongkrong’ di atas kepalanya.

“Hm…,” ia berdehem. Mencoba melancarkan produksi vokalnya.

“Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaaaatuh..”

“Wa ‘alaikum salam..” jawab hadirin tak serempak dan hanya terdengar sayup. Padahal masjid hampir penuh.

“Hadirin, meskipun kita tadi hanya berbuka dengan sepiring nasi dan ikan asin saja, tapi itulah nikmat paling besar yang Allah berikan pada kita. Semoga kita segera bertemu denganNya.”

“Wassalamu ‘alaikum,” seraya ia turun dari mimbar. Kencleng baru saja akan mulai berjalan tapi harus berhenti karena ceramah telah usai. Semua orang saling berpandang-pandangan. Menyimpan tanya dalam hati masing-masing. “Ha..? secepat itu”. “Tadi ngomong apa kok sudah selesai?”

Sumber: detik.com. Maaf bang Hatta, pinjam fotonya untuk ilustrasi.

Ceramah memang benar-benar selesai. Bapak tua itu langsung memimpin jamaah sholat taraweh. Barangkali selama sholat taraweh berlangsung banyak yang masih menyimpan tanya di hatinya.

Bagiku itu ceramah paling berkesan karena beberapa hal.

  1. Unik, keunikannya terletak pada singkatnya ceramah. Ini rekor ceramah paling singkat.
  2. Terserap optimal, seluruh pesan yang ia sampaikan benar-benar melekat di hati. Ini agak berbeda dengan gaya ceramah yang biasa didesain dalam durasi panjang. Bahkan, banyak penceramah yang justru terjebak pada ukuran durasi, bukan kualitas. Sehingga ceramahnya bertele-tele bahkan sering tidak nyambung.
  3. Kesederhaan berbuka puasa, ia menggambarkan kondisi berbuka puasa yang sederhana. Tidak seperti kita kebanyakan, berbuka puasa justru dengan ritual menyantap segala jenis makanan istimewa.
  4. Berbobot,  ini baru aku sadari di belakang hari.

Elaborasi dikit poin terakhir: Berbobot. Ternyata ada hadist yang senada dengan apa yang ia sampaikan. “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari). Barangkali sang penceramah mengambil hikmah dari hadis tersebut. Ia sampaikan dengan bahasa sehari-hari. Yang menarik, awalnya aku belum menangkap maksud kalimat terakhirnya: “semoga kita segera bertemu denganNya.” Dugaan awal itu sekedar doa, tapi doa yang agak aneh bukan?. Namun, setelah membaca hadis itu dan mengingat kembali raut wajah sang penceramah yang seolah memendam rindu itu aku baru tersadar. Ia sudah merasakan kenikmatan berbuka puasa, ada satu lagi nikmat yang hendak ia raih: bertemu dengan Tuhannya.

Subhanallah. Aku juga ingin merasakan kerinduan seperti itu. Maka, setiap ramadhan tiba aku selalu teringat ceramah paling singkat itu.

Nasib si Jari Tengah

Kenapa jari tengah bermakna “F**k You?”

Kalau ingin cari gara-gara dan diuber orang sekampung, gampang saja, acungkan jari tengah anda ke semua orang yang ditemui. Dengan catatan, empat jari yang lain harus tunduk dalam genggaman. Hanya jari tengah yang dalam posisi normal.

Video orang yang sedang mengacungkan jari tengah di televisi hampir dapat dipastikan kena sensor. Jari yang ukurannya paling panjang diantara jari-jari lainnya itu mendadak lebih hina dari aurat sekalipun. Jari tengah mampu mewakili pesan paling kurang ajar yang ingin kita sampaikan ke orang lain. Menghina, merendahkan, dan menyulut emosi. Mau pasang wajah senyum, marah atau mengejek, tak mengurangi makna mengejek jari tengah.

Apa kisah jari tengah mengalami nasib seperti ini? Ketika seluruh jari merapat dan kedua tangan merapat, itu mewakili simbol rendah hati dan sopan. Tapi kalau si jari tengah sendiri saja, simbol yang ia wakili bisa mengundang petaka.

Ternyata jari tengah sudah menemukan sialnya sejak zaman Romawi kuno. Ketika itu jari tengah sudah mewakili simbol menghina orang lain. Beberapa dokumen Romawi kuno mencatat hal itu. Tapi dalam konteks naskah-naskah komedi.

Nasib si Jari Tengah Ketika Berjuang Sendiri

Kini, seisi planet bumi sepakat memberikan makna “F*ck You” untuk simbol jari tengah. Digunakan untuk mengejek dengan tingkat kasar bahkan berorientasi seksual. Tapi, kenapa simbol jari tengah bermakna “F*ck You”?

Konon, ini dimulai ketika perang Perancis-Inggris. Sebelum perang Agincourt tahun 1415, Perancis yang khawatir dengan kemenangan Inggris memutuskan untuk memotong jari tengah tawanan Inggris. Tujuannya agar mereka tidak dapat memanah dengan baik karena ketika itu panah jadi salah satu senjata utama. Ternyata Inggris tetap berhasil menaklukkan Perancis.

Saat Inggris menang mereka mengolok-olok tentara Perancis yang telah berbuat curang. Sambil mengacungkan jari tengah tentara Inggris teriak-teriak dalam bahasa Inggris klasik “See, we can still pluck yew!”. Lihat, kami tetap bisa membantai kalian. Nah… agaknya PLUCK itu bergeser terus sampai sekarang jadi F*CK.

Nasibmulah jari tengah. Yang sabar ya nak..

Spasialnesia Segera Hadir

Kian hari biaya pendidikan semakin mahal saja. Dulu, kata orang “sekolah setinggi-tingginya menjadi salah satu jalan menjadi kaya,” kaya dalam ukuran finansial maksudnya. Kini, untuk sekolah anda harus jadi kaya dulu.

Saya cukup terkejut melihat tarif yang ditetapkan kampus-kampus beken di Indonesia. Bahkan, kalau dihitung-hitung biaya kuliah di dalam negeri tak jauh berbeda dengan kuliah di luar negeri. Akibatnya banyak orang tua yang kini memilih menyekolahkan anaknya ke luar negeri.

Anak saya masih kecil. Kebingungan biaya kuliah akankah saya alami juga nanti? Ah… biarlah masa berlalu dan menjawabnya. Mudah-mudahan nanti biaya kuliah menjadi lebih terjangkau. Sebab, aset paling mendasar sebuah bangsa bukanlah sumber daya alam, melainkan sumber daya manusianya. Bagaimana kita bisa maju kalau untuk belajar saja kita sudah memasang pagar setinggi-tingginya. Hanya yang berduit saja yang mampu melompati pagar itu dengan mudah.

Saya termasuk beruntung, ketika kuliah di ITB mendapat beasiswa penuh dari masuk hingga lulus. Saya berasal dari keluarga yang ekonominya pas-pasan. Mendapat keringangan berupa beasiswa penuh jadi karunia yang sangat berarti. Saya ingat, akibat beasiswa penuh ini, ketika masuk ITB saya punya dua janji.

Pertama, saya akan menempuh karir sebagai pengusaha bukan pegawai. Saat kuliah saya disuapi dengan beasiswa, maka kewajiban moral saya untuk tidak disuapi lagi secara finansial. Kedua, saya akan kembalikan ilmu yang saya peroleh ke masyarakat.

Janji pertama sedang saya tunaikan. Tidak mudah memang, tapi inilah jalan hidup yang saya pilih. Nah.. janji kedua itu belum saya penuhi sama sekali. Bagaimana cara mengembalikan ilmu kepada masyarakat? Saya belum menemukan cara yang pas.

Janji kedua itu selalu menghantui. Makanya, ketika mantan dosen pembimbing saya meminta kerjasama melakukan riset di kampus langsung saya penuhi. Itu salah satu jalan. Beliau juga pernah meminta saya jadi pembimbing tugas akhir mahasiswa. Alhamdulillah, itupun jadi jalan.

Tapi saya masih belum puas. Mengembalikan ilmu harus lebih luas cakupannya. Nah… untuk itu saya punya dua alternatif saat ini. Pertama, menulis buku, ini sedang saya lakukan. Lagi-lagi kerjasama dengan dosen pembimbing saya dulu. Kedua, saya ingin menulis rutin, setidaknya seminggu sekali. Lalu, tulisan itu akan saya muat pada media online. Biar murah meriah. he..hee.

Maka, hadirlah ide membuat www.spasialnesia.com. Insya Allah akan saya luncurkan bulan depan. Bagi insan geospasial, yang ingin berkontribusi, silahkan..

http://www.spasialnesia.com akan launching September 2011

Kitab Saktiku: Perjanjian dengan Setan

Di bulan ramadhan, salah satu bacaan yang paling banyak peminatnya adalah kitab suci Al Qur’an. Namun, aku ingin ceritakan bahwa aku punya buku sakti, judulnya “Perjanjian dengan Setan” karya Jajak MD.

Buku lusuh ini aku temukan saat masih mahasiwa dulu. Ketika beres-beres barang sewaktu akan pindahan, aku lihat sebuah buku dengan desain sampul yang aneh. Dugaanku buku itu sejenis buku-buku cerita horor Indonesia zaman 80 an. Dulu aku pernah baca buku “Manusia Penunggu Jenazah” karya Abdullah Harahap. Bayanganku, buku ini tak jauh beda dengan buku-buku horor seperti itu.

Entah bagaimana cerita, buku itu pun akhirnya aku ambil. Belakangan aku sadar, ‘menyelamatkan’ buku itu dari golongan sampah adalah satu hal yang paling aku syukuri.

Bukunya tak terlalu tebal. Kertasnya sudah menguning dan penuh bercak air, atau kotoran kecoa jangan-jangan? Penasaran dengan judulnya yang nyeleneh itu, si buku kumal itu pun aku masukkan dalam tas. Sudah lama tak baca buku-buku honor Indonesia. Selama ini hanya baca  buku-buku teks, biar agak keren baca juga buku filsafat dan pemikiran. Sekali-kali seru juga kalau baca buku yang katanya kelas kacangan ini.

Begitu selesai pindahan kost, aku sempatkan baca buku hasil nemu tak sengaja ini. Luar biasa, serasa tersihir, aku hanyut dalam cerita-cerita di buku itu. Ternyata, itu adalah kumpulan cerpen Jajak MD. “Perjanjian dengan Setan” merupakan salah satu judul cerita yang akhirnya jadi judul buku.

Aku merasa menemukan buku yang frekuensi alamiahnya sama dengan diriku, sehingga setiap membaca terasa betul resonansinya. Aku suka, titik.

Foto: bukubukubekas.wordpress.com

Kini, setelah lebih dari tujuh tahun menemukan sang buku lusuh itu, sudah puluhan kali aku membaca sampai tuntas. Rasanya tak pernah bosan. Setiap aku merasa sulit menulis atau mandeg mengerjakan tulisan apapun, buku Perjanjian dengan Setan lah yang mampu mengembalikan kesegaran.

Jajak MD memang hebat. Ia lantas kutempatkan sebagai penulis paling kucari. Sayangnya jejak tulisan Jajak MD tidak terlalu banyak. Sibuk googling aku hanya menemukan lima saja cerpennya. Itupun cerpen tahun 2000-an. Di usianya yang senja Jajak MD banyak menulis tentang kematian. Nah… di buku Perjanjian dengan Setan ia banyak menulis tentang petualangan hidup seorang pemuda. Sederhana namun menggugah.

Dalam buku Perjanjian dengan Setan, Jajak MD mahir menghadirkan cerita. Cerita mengalir dan bernas. Yang paling aku suka, ia selalu menutup cerita dengan mengejutkan. Cerpen yang ia tuliskan dalam buku itu terjadi pada tahun 70-an, tapi masih terasa hidup dan relevan sampai saat ini.

Bagiku, inilah kitab sakti. Sakti karena setiap membacanya, buku itu seolah menumpahkan inspirasinya padaku untuk menulis juga. Aku tak begitu mengenal siapa Jajak MD. Hanya profil singkat melalui penelusuran om Google, tapi karyanya telah berhasil meresonansiku. Terima kasih eyang…

Penggemarmu.