Sang Motivator

Kalau engkau ingin merasakan aura orang yang selalu berpandangan negatif, temui lah Tony. Cara berpikirnya, komentar yang ia keluarkan, mimik wajahnya, gesture-nya, seolah-olah telah terlatih membuat orang lain kesal.

Tapi belakangan Tony menghilang. Tak ada kabar berita. Timeline di akun facebook dan twitternya kosong. Tony lenyap dalam sekejap. Padahal tiga hari lalu dia baru misuh-misuh mencaci tayangan televisi yang katanya sampah semua.

Aku coba membuat daftar semua kemungkinan. Sherlock Holmes mengajarkan untuk tafakur sejenak, merangkai detail-detail yang ada dan menemukan hubungan.

“Barangkali Tony masuk NII,” ini dugaan pertama. Tapi, Tony tak mungkin masuk NII. Dia kan non-muslim. Coret dari daftar.

“Tony pasti diculik. Nanti penculiknya minta tebusan satu miliar. Kalau tidak dibayar, Tony akan dibunuh.” Tapi… siapa yang mau menculik makhluk tak bergengsi ini? Siapa yang mau menculik manusia kribo dan jarang cuci rambut seperti dia? Kemungkinan ini juga gugur seketika.

“Dia kawin lari,” oh… tak mungkin. Liat cewek cantik aja Tony tak sanggup menatapnya. Apalagi bawa anak orang kawin sambil lari.

“Tony cari kerja jadi supir angkot,” hm… boleh juga analisanya. Tapi Tony kan belum bisa nyetir mobil.

“Pulang kampung,” tak mungkin. Kemarin Ibunya telepon tanya dia mau dikirimi berapa duit bulan ini.

“Tony meninggal,” astaghfirullah. Ternyata aku tak berbakat mengikuti gaya Sherlock Holmes.

Sudahlah, tak perlu pikirkan kemana dia pergi. Ada baiknya juga Tony tak berada disini. Dunia jauh lebih cerah tanpa kehadiran pikiran sinisnya.

tiga hari kemudian

Saat aku membuka pintu rumah kos, Tony sudah ada di ruang tengah. Ia duduk di kursi sambil meneguk perlahan secangkir teh panas. Srrrluup… ah.. mantaap, katanya seolah menikmati seisi dunia dengan tegukan teh itu.

“Hei boneng, kemana saja kamu?”

Boneng itu memang panggilan paling pas buat Tony. Nama Tony terlalu keren untuk dia sandang. Selain kribo tak menentu, Tony juga punya gigi yang maju setengah langkah lebih depan. Itu sebabnya dia disebut boneng. Tony tak pernah protes.

“Ho.ho… aku sekarang jadi orang baru,” Tony berdiri dari kursinya.

“Boneng yang lama sudah tak ada lagi. Sudah kubunuh dia,” Tony kembali duduk.

Aku terdiam mencoba menganalisa aroma ruangan. Jangan-jangan dia lagi mabok. Kalau mabok pasti ada bau alkohol.

“Sekarang panggil aku Tony Sang Motivator,” Tony berdiri kembali.

“Sudah cukup, kamu dari tadi duduk, berdiri, duduk. Pertanyaanku belum dijawab. Kamu dari mana? Ibumu sudah panggil dukun untuk melacak mayatmu.”

Sekarang Tony duduk lagi. Ia cerita. Begini kisahnya.

–story begin–

Minggu lalu Tony terlibat diskusi dengan seorang wanita. Diam-diam Tony menaruh simpati pada wanita asal Nusa Tenggara ini. Baru kali itu dia dapat balasan kesinisan orang lain padanya. Selama ini Tony hanya melempar sinis kemana-mana. Tapi, di saat hatinya berbunga, sang pujaan hati menusukkan sinis yang tak kepalang ke ulu hatinya.

“Mas Tony, kamu ini jalan berpikir dan tingkahnya aneh bukan main. Siapa yang mau berteman denganmu?” tohok sang wanita dengan kata-kata.

Di rumah Tony terkulai lemas. “Jangankan ingin menjalin hubungan istimewa, berteman saja dia tak mau denganku.” Begitu suara-suara berdentingan di kepalanya.

Tony kehilangan kendali. Dia harus cari solusi. Kebetulan ada brosur training motivasi. Tony langsung lari. Ke kota tempat workshop pengembangan diri. Tony tak mau kasih informasi. Dia berangkat sendiri.

Empat hari Tony terpukau melihat bagaimana dahsyatnya sang motivator menggodok peserta yang butuh suntikan motivasi itu. Mereka berteriak. Mereka berafirmasi. Mereka berjanji. Dan mereka saling menguatkan diri.

Tony lantas memilih jalan hidup. Ia ingin jadi seorang motivator. Ia terkesima betul dengan karisma yang terpancar dari motivator-motivator yang membakar jelaga sinis dalam dirinya. Tony merasa bersinar. Sinar yang entah dari mana hadir menerangi jalan pikirannya.

Tiba-tiba ia teringat Santi, wanita Nusa Tenggara yang ia cintai itu. Santi pasti kagum kalau aku bisa berubah. Apalagi kalau berubah menjadi motivator, pasti keren sekali.

–end of story–

Plok..plok..plok… aku tak kuasa menahan diri untuk bertepuk tangan. Akhirnya, si dementor kini beralih menjadi sang motivator. Sungguh mulia.

tiga hari kemudian

Salam Super!, sumber istock.com


‘Tony Sang Motivator Terhebat dan Terbringas’ begitu ia mencetak julukan di kartu namanya. Ia singkat menjadi Tony SMTT. Gelar itu ia sematkan untuk meningkatkan daya jual. Business as usual  dalam dunia permotivatoran.

Hari ini Tony SMTT meringkuk di kamar. Tubuhnya seolah kehilangan energi yang tiga hari belakangan levelnya naik hingga ke puncak.

“Aku kehilangan semangat,” katanya lesu. Setelah kena sambar amarah dosen wali yang tau Tony cabut lebih dari tiga hari, energi hasil pompaan motivator handal langsung tandas.

“Aku mau ikut seminar motivasi lagi,” Tony seperti ketagihan narkotika.

Lalu kukatakan padanya.

Mas Boneng, kamu pasti menjadi motivator handal suatu hari nanti. Motivasi bukan teori. Bukan pula ilusi. Motivasi adalah pengenalan diri. Diri yang mampu engkau buat terkendali. Setidaknya untuk diri sendiri.

Salam motivator…. Dan salam segala-galanya.

Fiksi, kisah hampir nyata adanya.
Iklan

One thought on “Sang Motivator

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s