Kitab Saktiku: Perjanjian dengan Setan

Di bulan ramadhan, salah satu bacaan yang paling banyak peminatnya adalah kitab suci Al Qur’an. Namun, aku ingin ceritakan bahwa aku punya buku sakti, judulnya “Perjanjian dengan Setan” karya Jajak MD.

Buku lusuh ini aku temukan saat masih mahasiwa dulu. Ketika beres-beres barang sewaktu akan pindahan, aku lihat sebuah buku dengan desain sampul yang aneh. Dugaanku buku itu sejenis buku-buku cerita horor Indonesia zaman 80 an. Dulu aku pernah baca buku “Manusia Penunggu Jenazah” karya Abdullah Harahap. Bayanganku, buku ini tak jauh beda dengan buku-buku horor seperti itu.

Entah bagaimana cerita, buku itu pun akhirnya aku ambil. Belakangan aku sadar, ‘menyelamatkan’ buku itu dari golongan sampah adalah satu hal yang paling aku syukuri.

Bukunya tak terlalu tebal. Kertasnya sudah menguning dan penuh bercak air, atau kotoran kecoa jangan-jangan? Penasaran dengan judulnya yang nyeleneh itu, si buku kumal itu pun aku masukkan dalam tas. Sudah lama tak baca buku-buku honor Indonesia. Selama ini hanya baca  buku-buku teks, biar agak keren baca juga buku filsafat dan pemikiran. Sekali-kali seru juga kalau baca buku yang katanya kelas kacangan ini.

Begitu selesai pindahan kost, aku sempatkan baca buku hasil nemu tak sengaja ini. Luar biasa, serasa tersihir, aku hanyut dalam cerita-cerita di buku itu. Ternyata, itu adalah kumpulan cerpen Jajak MD. “Perjanjian dengan Setan” merupakan salah satu judul cerita yang akhirnya jadi judul buku.

Aku merasa menemukan buku yang frekuensi alamiahnya sama dengan diriku, sehingga setiap membaca terasa betul resonansinya. Aku suka, titik.

Foto: bukubukubekas.wordpress.com

Kini, setelah lebih dari tujuh tahun menemukan sang buku lusuh itu, sudah puluhan kali aku membaca sampai tuntas. Rasanya tak pernah bosan. Setiap aku merasa sulit menulis atau mandeg mengerjakan tulisan apapun, buku Perjanjian dengan Setan lah yang mampu mengembalikan kesegaran.

Jajak MD memang hebat. Ia lantas kutempatkan sebagai penulis paling kucari. Sayangnya jejak tulisan Jajak MD tidak terlalu banyak. Sibuk googling aku hanya menemukan lima saja cerpennya. Itupun cerpen tahun 2000-an. Di usianya yang senja Jajak MD banyak menulis tentang kematian. Nah… di buku Perjanjian dengan Setan ia banyak menulis tentang petualangan hidup seorang pemuda. Sederhana namun menggugah.

Dalam buku Perjanjian dengan Setan, Jajak MD mahir menghadirkan cerita. Cerita mengalir dan bernas. Yang paling aku suka, ia selalu menutup cerita dengan mengejutkan. Cerpen yang ia tuliskan dalam buku itu terjadi pada tahun 70-an, tapi masih terasa hidup dan relevan sampai saat ini.

Bagiku, inilah kitab sakti. Sakti karena setiap membacanya, buku itu seolah menumpahkan inspirasinya padaku untuk menulis juga. Aku tak begitu mengenal siapa Jajak MD. Hanya profil singkat melalui penelusuran om Google, tapi karyanya telah berhasil meresonansiku. Terima kasih eyang…

Penggemarmu.

Di kala senang

Menulislah dikala senang. Itu yang terlintas di benakku saat berangkat ke Bali tanggal 20 agustus kemarin. Kita semua pasti pernah mendengar suara batin sendiri. Ia bertingkah dengan segala macam ide di kepala. Biasanya saat sedang sendiri, saat melamun, atau saat beraktifitas tapi tak membutuhkan kinerja otak yang banyak.

Nunggu pesawat yang kata petugas bandara akan telat 2 jam membuat saya bete awalnya. Lalu saya baca-baca majalah. Selama membaca banyak kecambah ide yang muncul di kepala. Mereka melompat-lompat. Ingin keluar dalam bentuk apapun. Tulisankah, diskusikah, atau cacian malah.

Baca majalah dua jam ternyata membuat lelah juga. Saat masuk pesawat mata tak ingin terpejam. Berbagai ide-ide yang melompat-lompat tadi membunuh syaraf ngantuk. Padahal biasanya setiap naik pesawat saya selalu tertidur. Kali ini tidak. Mereka ingin digoreskan dalam tulisan katanya.

Tapi sayangnya saya sedang tidak memegang kertas. Hanya pena yang setia menggantung di saku kemeja. Cari sana, cari sini, tak ketemu juga. Akhirnya amplop pun jadi sasarannya. Amplop itu tadinya saya gunakan untuk menyimpan uang. Bukan uang suap, bukan pula hasil korupsi. Hanya sengaja memisahkan antara duit pribadi dan duit perusahaan saja.

Ni dia, sang amplop pun jadi korban ide-ide tadi. Ditulis dalam pesawat.

Tapi saya jadi senang. Lega pula. Setelah bebas melibas sang amplop dengan tulisan apapun yang ada dalam fikiranku. Karena belum layak muat, tulisan itupun tak dipindah dalam bentuk apa-apa. Dia hanya tersimpan dalam tas. Mungkin lain waktu bisa dipoles lagi.